Halaman

    Social Items

Lensa Bokep Nada4D - Cerita Sex Keluarga Istriku, ketika aku harus ke Menado untuk suatu urusan. Biasanya aku tak pernah mampir kerumah keluarga isteriku

yang memangnya berasal dari sana, tetapi kali ini aku terpaksa harus mampir ke Amurang karena isteriku

menitipkan beberapa barang untuk adik dan kakaknya disana.


Setelah selesai urusanku dikota Manado, maka aku segera memanggil taksi untuk ke Amurang yang letaknya

cukup jauh dari kota Manado. Aku sebenarnya kepengen menginap di Manado saja karena disana ceweknya

mantap mantap dan menyenangkan, tetapi karena aku harus ke Amurang, maka aku putuskan untuk menginap

disana saja, tokh aku tahu kalau rumah keluargaku cukup besar disana dan aku bisa menempati paviliunnya

yang sangat menyenangkan.


Aku sampai di Amurang sekitar jam 16:00, dirumah aku disambut oleh mertuaku, Elsa kakak isteriku serta

Vera adik isteriku. Aku menatap wajah ke-3 orang ini dengan pikiran yang melayang layang, karena

sejujurnya saja baik itu ibu mertuaku, kakak iparku maupun adik iparku semuanya cantik dan seksi. Mereka

tanpa canggung memelukku serta menciumiku seperti biasanya orang yang kangen. Slot Online Terpercaya


Tetapi aku jadi cenut cenut sendiri. Bayangkan, meskipun mertuaku usianya sudah hampir 55 tahun, tetapi

badannya masih montok dengan payudaranya yang benar benar hebat ditambah lagi wajah yang cantik, kalau

Evie kakak iparku wajahnya kalem khas Manado, tetapi bentuk badannya benar benar ideal karena tinggi

langsing dengan buah dada dan pinggul yang tak terlalu besar, kulitnya bersih dan bibirnya selalu

tersenyum, berbeda sekali dengan adik iparku Vera yang wajahnya seksi dengan tubuh yang pendek dan padat

ditambah buah dada yang montok hampir hampir tak sesuai dengan badannya yang kecil itu. Aku jadi

bertanya tanya apakah Vera masih perawan, karena badannya begitu subur.


Kami masuk kerumah bersama sama, Ibu mertuaku merangkul aku dengan mesra sehingga dapat kurasakan buah

dadanya menempel ketat dilenganku. Aku jadi nggak karu karuan, apalagi ketika kuperhatikan Vera, roknya

yang tipis menyebabkan pantatnya yang memakai celana dalam kecil itu terbayang nyata dihadapanku. Benar

benar membuat jakunku turun naik. Aku memang menyadari sejak dulu bahwa keluarga isteriku semuanya

cantik, tetapi aku tak pernah menduga bahwa aku dihadapkan pada suasana seperti ini, aku sudah merasakan

bahwa malam ini aku akan mendapat santapan yang lezat, entah yang mana tetapi aku pasti akan main dengan

salah satu dari mereka atau bahkan dengan ketiganya, karena ibu mertuaku sendiri juga masih “layak

dinikmati” Dalam kamar aku berusaha untuk tidur sejenak karena memang tubuhku penat sekali, aku mencoba

untuk tidur barang satu jam agar supaya nanti bisa keluar makan malam dengan keluargaku semuanya.


Tetapi entah berapa lama aku tertidur karena ketika aku bangun kulihat diluar sudah gelap dan tak

seorangpun yang berani membangunkan aku. Dengan tergesa gesa aku mengambil handukku dan pergi mandi. Tak

kulihat seorangpun dirumah, entah kemana semua, tetapi ketika aku mendekati kamar mandi kudengan suara

deburan air serta nyanyian wanita yang sayup sayup. Dari suaranya kukira itu suara ibu mertuaku. Benar

saja ketika kuketuk pintunya ibu mertuakulah yang menjawab. Kutunggu dimuka pintu dan tak lama kemudian

keluarlah mertuaku dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dilibatkan dibadannya.


Aku terpana menyaksikan sembulan buah dada mertuaku yang menonjol dari balik handuk yang dipakainya itu,

apalagi ketika mertuaku mengambil pakaian yang ditaruhnya digantungan maka aku dapat melihat bulu

ketiaknya yang lebat dan hitam itu. Secara otomatis aku melihat keantara selangkangannya sayang tertutup

dengan handuk yang sedikit menutupi pangkal pahanya itu. Dengan nekad aku sengaja menjatuhkan handukku

dan ketika mengambilnya aku melirik kepangkal paha mertuaku, benar saja, kulihat kerimbunan jembutnya

yang masih basah dengan air. Entah mengerti atau tidak, tetapi mertuaku hanya tersenyum melihatku.


Aku segera masuk kekamar mandi dan mulai mandi. Pikiranku yang ngeres menyebabkan kontolku jadi ngaceng

nggak karu karuan. Kupercepat mandiku dengan harapan aku bisa nyamperin mertuaku yang kuharapkan masih

belum berganti pakaian. Kusambar handuk, kubiarkan bajuku tergantung dikamar mandi dan aku setengah

berlari menuju kekamar mertuaku untuk menjalankan tipu muslihatku. Dengan hanya memakai handuk saja aku

berhenti sejenak didepan kamar mertuaku, aku menarik nafas panjang dan tanpa mengetuk aku masuk kekamar

itu. Benar saja kulihat mertuaku telanjang bulat didepan kaca sambil menyisir rambutnya yang panjang.

Mataku terbeliak melihat buah dada serta jembut mertuaku yang amit amit tebalnya itu.


Mertuaku menjerit kaget, dan menoleh kearahku, wajahnya merah padam, tetapi tak sedikitpun ia berusaha

untuk menutupi memeknya ataupun susunya. Dengan wajah yang kubuat serius aku meminta tolong mertuaku

untuk melihat kontolku yang kukatakan digigit semut, memang tadi sengaja aku mencari semut merah didepan

kamar mandi dan kugigitkan kebatang kontolku sehingga kontolku jadi bintul kena sengat semut kecil itu.

Ketika melihat aku menyodorkan kontolku yang seperti anak kucing besarnya itu mertuaku jadi terpana, dia

tak bisa berkata apa apa namun kuperhatikan matanya terus melekat memandang kontolku itu.


Mertuaku mengambil duster dan memakainya untuk kemudian mengambil obat gosok dan mendekati aku. Dengan

agak gemetar mertuaku mendekat dan dipegangnya kontolku untuk melihat bagian yang digigit semut itu.


” Aduh Roy, ngana ini kok ada ada saja sih, untung nih Evie dan Vera lagi keluar, kalau nggak kan Mamie

jadi nggak enak ya, sini Mamie kasih minyak gosok biar nggak sakit” Aku merasakan sentuhan tangan

mertuaku yang dingin sekali, kurasa kalau dia masih sungkan atau takut karena kenekadanku ini.


Setelah membubuhkan minyak gosok, mertuaku mau berdiri, tetapi aku sengaja bilang


” Mamie masih sakit nih, tolong dong dipijit pijit biar nggak terasa sakitnya.


Mertuaku tertawa geli dan menyuruh aku duduk dikursi panjang yang ada dikamar itu, setelah aku duduk

mertuakupun duduk disampingku dan tangannya mulai memijit mijit bagian kontolku yang sakit itu. Tapi

dasar kontolku memang kurang ajar, begitu dipijit sedikit langsung saja dia ngaceng dan berdiri tegak

lurus. Mertuaku dengan setengah berbisik berkata


” Roy ngana punya barang kok galak sekali ya ” Aku diam aja karena aku juga merasakan sentuhan buah dada

mertuaku yang menyenggol lenganku.


Tanpa ragu ragu aku membetulkan tangan mertuaku agar supaya memegang kontolku dengan lebih tepat. Tiba

tiba saja mertuaku melepaskan tangannya dan sambil tertawa menyuruh aku keluar dari kamarnya


” Ayo Roy, itu sudah sembuh sekarang ngana keluar ” Aku yang sudah bernafsu yakin bahwa mertuaku

sebenarnya juga kepengen merasakan kontolku ini, tetapi mungkin dia kuatir sehingga dia menyuruh aku

keluar.


Karena itu tanpa bicara ba atau bu langsung saja kuterkam mertuaku dan kutarik dusternya sehingga kami

sama sama telanjang bulat. Langsung aku menciumi bukit memeknya yang penuh dengan jembut keriting itu

sementara tanganku dengan terlatih memilin milin puting susu mertuaku. Mertuaku berusaha untuk

memberontak dan mendorong kepalaku, meskipun aku tahu itu tidak dengan sungguh hati, dan justru karena

gerakannya itu paha mertuaku jadi terkuak yang menyebabkan aku mudah untuk menyelipkan bibirku keliang

memeknya.


Sekali lidahku menyentuh itilnya, mertuaku langsung ambruk dan terlentang diatas kursi panjang tanpa

berdaya apa apa. Matanya terpejam sambil menggigit bibir, menahan rasa geli yang aku berikan. Tanpa

menunggu lama, aku langsung mengarahkan kontolku keliang memek mertuaku dan sekali kedut kontolku

langsung amblas, begitu aku menggerakkan kontolku, mertuaku langsung merangkul aku dan menggigit

pundakku dengan keras sekali, kedua kakinya diangkat tinggi dan dijepitkan pada pinggangku. Kurasakan

memek mertuaku sudah longgar, tetapi untuk ukuran kontolku yang over size ini, maka memek seperti ini

cocok sekali rasanya, karena kalau terlalu sempit justru membuat aku cepat finish. Benar saja justru

beberapa saat kemudian mertuaku yang berkelojotan merasakan nikmatnya gesekan kontolku dan mencapai

kepuasannya.


Aku tak merasakan perihnya gigitan mertuaku pada pundakku karena aku sedang asyik memacu kontolku untuk

mengejar ketinggalanku, ketika kurasakan air maniku sudah hampir menyemprot keluar, kurasakan memek

mertuaku sepertinya makin menjepit kontolku sehingga aku jadi melenguh panjang dan semprotan demi

semprotan air maniku memancar keluar memenuhi liang memek mertuaku. Baru saja aku menikmati empotan

memek mertuaku yang khas itu, tiba tiba saja mertuaku mendorong badanku sambil berkata


” Roy, ngana nekad sekali, bagaimana kalau kelihatan anak anak yang lain, Mamie bisa mati berdiri” Aku

hanya menyeringai, kusambar handukku dan aku segera keluar menuju kamar mandi lagi.


Kucuci kontolku yang penuh lendir dan segera keluar dari kamar mandi. Benar benar aku merasakan

petualangan yang hebat, karena aku tak pernah menyangka bahwa aku dapat mencicipi tubuh mertuaku yang

begitu padat dan seksi serta benar benar berpengalaman membuat pria merasakan kenikmatan yang sejati.

Aku tahu bahwa dari cara mertuaku menikmati persetubuhan tadi, dia sudah lama tak pernah merasakan

kontol pria, tetapi aku yakin hal itu tak berarti dia tak pernah merasakannya semenjak mertua laki

lakiku meninggal. Pasti ada satu atau dua pria yang mengisi kesepiannya dengan memberikan kehangatan

seks.


Aku sendiri sebenarnya masih belum puas dengan permainan tadi, karena dengan tubuh seperti mertuaku itu,

rasanya aku masih mampu mendayung dua tiga kali lagi, tetapi apa mau dikata, mertuaku kuatir kalau

diketahui orang. Ketika aku lewat kamar mertuaku, kulihat kamar itu tertutup rapat, sebenarnya aku ingin

mengetuknya, tetapi saat itu kulihat Evie berjalan kearahku, sehingga aku mengurungkan niatku itu. Evie

tersenyum melihatku,


”kenapa ngana kok baru mandi Roy ?” aku jawab kalau aku ketiduran karena terlalu lelah.


Evie tersenyum manis yang membuat jantungku berdegup keras, senyuman itu benar benar merangsang dan

penuh isyarat undangan yang dapat kutangkap. Sesampai dikamar, aku berbaring dulu ditempat tidur,

disamping untuk relax, aku juga memikirkan Evie kakak iparku yang cakep itu. Kalau dilihat dari wajahnya

sih memang cantik isteriku yang juga adiknya, tetapi kalau badannya, isteriku bukan apa apa dibandingkan

Evie yang lebih mirip mamienya itu. Kubayangkan, apakah mungkin malam ini rejekiku bertumpuk tumpuk

sehingga bisa menyantap ketiga wanita yang ada dirumah ini, memikirkan hal ini aku jadi tersenyum

sendiri.


Aku berpikiran bahwa ketiga perempuan dirumah ini memang kelihatannya nafsunya gede, aku bandingkan

mertuaku dengan isteriku yang juga anaknya, tidak jauh berbeda nafsunya. Entah kalau si Evie atau Vera,

tetapi aku berani bertaruh bahwa mereka itu juga hebat. Sedang asyiknya aku melamun, kudengar ketukan

pelan dipintu kamarku, aku melompat dari tempat tidurku membenahi handukku dan membuka pintu itu.

Kulihat Evie dimuka pintu sambil tersenyum dia berkata


” Roy ayo ngana makan dulu, biar nggak letih itu badan” Aku menyahut

“nggak dulu deh Ev, gimana kalau kita omong omong saja dulu disini, nanti kita makan sama sama ya” Evie

tak menyahut, tetapi dia langsung masuk dan aku dengan acuh tak acuh menutup pintu itu.


Jantungku berdegup keras,”ini dia dapat lagi satu santapan”. bagiku Evie bukan sekedar merangsangku

karena tubuhnya, tetapi aku lebih tertarik karena dia adalah kakak isteriku seperti aku juga tertarik

pada mertuaku sendiri yang ternyata juga mau main dengan menantunya itu. Karena kursi dikamar itu hanya

satu, maka agar supaya Evie duduk diatas tempat tidurku, maka aku cepat cepat duduk dikursi yang cuma

satu itu. Benar saja, Evie setelah menoleh kiri kanan dan tak menemukan tempat duduk maka dia duduk

diatas tempat tidurku. Dengan hanya memakai handuk aku mengajak Evie berbicara sementara mataku

memperhatikan Evie yang memakai duster tanpa lengan itu.


Kalau kuperhatikan, Evie tampaknya tak memakai beha, aku hanya ingin dia mengangkat tangannya agar aku

bisa melihat ketiaknya, apakah lebat seperti isteriku dan juga mamanya ataukah bersih yang kurang

kusukai itu. Evie menanyaiku keadaan Jakarta, juga bagaimana keadaan Novie isteriku disana. Aku

bercerita panjang lebar tentang keadaan keluarga di Jakarta, juga aku ceritakan tentang Vicky adik laki

laki satu satunya yang juga membantu perusahaanku di Jakarta. Pembicaraan kami jadi makin serius ketika

aku mulai menanyakan keberadaan bung Denny, suami Evie. Denny seorang dokter yang ganteng dan baik

sekali, sayangnya sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak seorangpun, entah siapa yang salah.


Iklan Sponsor :


Ketika kutanyakan dimana bung Denny, Evie menjawab kalau Denny sedang dinas kedaerah untuk beberapa

hari. Hal ini membuatku gembira karena berarti kesempatanku makin besar untuk menikmati Evie.


“Evie kenapa sih kok belum punya anak juga, apa memang dicegah ?” Evie tersenyum simpul saja katanya

“Bagaimana mau punya anak, kalau produksinya jarang jarang” Aku tersenyum dan dengan santai aku

bercerita tentang hubunganku dengan Novie isteriku dalam hal seks.


Kuceritakan betapa Novie hampir setiap malam mengajakku untuk main, belum lagi hobby Novie yang senang

posisi macam macam. Evie hanya menyeringai saja mendengar ceritaku yang seram itu, aku yakin kalau dia

terangsang mendengarnya.


“Roy, kenapa sih Novie kok demikian gede nafsunya, apa kamu kasih minum obat ya?” Aku jawab enteng,

“enggak tuh, tapi biasanya, perempuan yang bulunya lebat, itu nafsunya juga gede” Evie terkikik

mendengar jawabku itu, aku langsung bertanya lagi

” apakah Evie juga lebat bulunya, kasih lihat dong !” Evie dengan terus tertawa geli balas bertanya

“bulu apa Roy ?” Kujawab

“bagaimana dengan bulu ketiak Evie ?” Evie dengan malu malu mengangkat lengannya yang putih bersih itu

sehingga aku bisa melihat ketiaknya yang penuh dengan rambut hitam keriting itu.Cerpen Sex


Aku bergaya tenang saja, padahal hatiku dag dig dug melihat ketiak yang lebatnya melebihi ketiak

isteriku bahkan lebih lebat dari ketiak mertuaku tadi. Sambil mengatur suaraku agar tak kentara kalau

aku nervous aku berkata lagi


“waduh Evie, nafsumu pasti segede nafsu Novie, malah bisa bisa kamu lebih gede lagi, kalau bung Denny

nggak punya modal yang hebat, pasti rontok deh sama kamu”

“Apakah barangnya Denny gede dan mainnya kuat Ev ? Evie tak menjawab malahan bertanya

“kalau Roy gimana ?” Inilah pertanyaan yang aku tunggu tunggu langsung saja kujawab

“kalau aku sih minimal 2 kali semalam ya masih OK, karena barangku cukup besar untuk membuat Novie puas

dalam waktu yang relatif singkat” Saat itu dengan sengaja kusingkap handukku hingga kontolku yang sudah

setengah ngaceng itu dapat dilihat dengan nyata oleh Evie.


Evie menjerit lirih melihat kontolku itu, katanya


” aduh Roy masukkan deh, aku ngeri habis gede sekali sih” Aku tertawa saja, tanpa berusaha untuk menutup

handukku lagi, malah aku bertanya :

“kalau punya Denny seberapa Ev ? Evie menjawab

“pokoknya nggak segede punya kamu deh”

“Ah nggak apa apa Ev, Noviepun aku rasa susunya tak semontok kepunyaanmu, pasti Denny senang karena

punya isteri yang susunya gede”

“Coba aku lihat Ev, sebentar saja” Evie tertawa tawa malu namun dibukanya kancing dusternya bagian atas

sehingga terbukalah buah dadanya yang putih mulus tanpa beha itu.


Benar benar besar dan padat sekali, pentilnya coklat muda dan dibeberapa tempat kulihat masih ada bekas

gigitan yang berwarna merah. Aku berdiri dan mendekati Evie, kataku


“aduh Evie, susumu bagus sekali, aku kepengen memegangnya ya” tanpa menunggu aku sudah meremas buah dada

yang montok itu, sementara karena tadi handukku terlepas, maka ketika aku berdiri aku sudah tak memakai

apa apa lagi.


Sengaja kupepetkan badanku ketubuh Evie sehingga sementara tanganku meremas susu Evie, kontolku yang

panjang itu menggeser geser lengan Evie. Evie hanya diam saja merasakan remasan dan pelintiran jariku

pada putingnya. Bahkan dia berkata


“Roy aku boleh pegang barangmu ya!” Aku tak menjawab, hanya kontolku kusorongkan kearahnya, dengan gemas

Evie balas meremas kontolku dan entah disengaja atau tidak Evie menarik kontolku sehingga aku

terjerembab keatas tempat tidur menimpa tubuhnya.


Saat itu aku langsung memeluknya dan mencium bibirnya yang tebal dan menantang itu. Evie membalas

ciumanku dengan menggigit bibir bawahku pelan pelan seperti dimamah. Aku membalas ciuman Evie dengan

menyelusupkan lidahku kedalam rongga mulutnya yang dibalas Evie dengan menghisap ujung lidahku itu.

Benar benar jago berciuman, sementara bibir kami bertautan, tanganku mulai mengembara kepaha Evie,

kurasakan celana dalamnya menutupi bukit memeknya, karena itu pelan pelan kutarik celana dalam itu

hingga terlepas, ketika kuraba bukit memeknya aku merasakan kerimbunan yang sangat tebal.


Ketika jariku berusaha mencari liang memek Evie, aku berhasil menyentuh itil Evie yang sudah membengkak

dan keras itu. memek Evie sudah licin dengan cairan sehingga jariku dengan mudah menelusup kedalam

liangnya yang hangat dan terus menerus mempermainkan itilnya itu. Saat itu Evie berbisik agar supaya aku

mengunci pintu lebih dahulu. Dengan tergesa gesa aku menuju pintu serta menguncinya. Kembali ketempat

tidur kulihat Evie sudah membuka dusternya sehingga tubuhnya yang montok dan putih mulus itu terpampang

dihadapanku. Kaki Evie sudah direntangkannya sendiri membuat liang memeknya yang berwarna merah tua itu

merekah berkilat karena lendir yang membasahinya.


Aku tak mau lagi menunggu terlalu lama, kuarahkan kontolku keliang memeknya dan pelan pelan kutusukkan

keantara bibir memek Evie, aku sengaja tak memasukkannya sekaligus karena aku kepengen Evie yang

bereaksi menekan kontolku agar masuk semuanya. Evie yang sudah bernafsu itu menekan pantatku sehingga

akhirnya kontolku amblas dalam liangnya. Begitu Evie merasakan ujung kontolku sudah menyentuh leher

rahimnya, dia langsung memutar mutar pantatnya seperti ayakan agar supaya ujung kontolku itu makin kuat

menggeser leher rahimnya. Kulihat mata Evie terpejam rapat, begitu juga bibirnya.


Setiap kali dia merasakan kegelian pada memeknya, Evie merintih, aku dapat mengetahui hal ini karena

setiap kali merasa geli, memek Evie selalu mengejang. Ku biarkan saja Evie memuaskan dirinya, sementara

aku asyik menciumi susunya yang montok itu, aku sama sekali tak berani menggigit susunya karena aku

kuatir kalau bung Denny curiga. Merasa kurang puas dengan posisi dibawah, Evie mendorong tubuhku dan

menyuruhku terlentang dengan posisi kontolku menjulang keatas, dengan gemetar ia mengangkangi kontolku

dan ditepatkannya ujung kontolku keantara bibir memeknya, sambil tetap menggenggam kontolku, Evie pelan

pelan menurunkan badannya sehingga kontolku tertelan oleh jepitan memeknya itu, tanpa sungkan sedikitpun

Evie dengan penuh nafsu mulai menaik turunkan pantatnya, matanya terpejam rapat dan susunya terguncang

guncang karena gerakan Evie yang cepat itu. Evie merintih


” Ssst…Roy, barangmu rasanya mekar ya, aduh geli sekali Roy, aku tak tahan lagi Roy………..! Gerakan Evie

yang tadinya ritmis meskipun cepat itu mendadak jadi seperti tersendat sendat, Evie meremas sendiri

susunya dan

“…….aduh…… Roy, aku .kkkkkellluuuuuuaaarrrrr ! Kurasakan memek Evie mengejang seakan memijat batang

kontolku yang masih belum merasakan apa apa itu.


Memang setelah sekali memuntahkan sperma setelah main dengan mamie mertuaku, aku sekarang jadi agak

kebal terhadap geli, jadi meskipun kontolku ngaceng dan siap tempur, tetapi justru spermaku yang tak mau

keluar sehingga membuat aku jadi berang juga. Setelah kulihat Evie berhenti bergerak dan menelungkup

diatas dadaku, aku langsung menggulingkan tubuhku sehingga sekarang Evie yang ada dibawah lagi. Aku

segera memompa lagi memek Evie yang masih basah kuyup dengan lendir itu, aku tak perduli dengan suaranya

yang berkecipakan itu. Keringatku bertetesan sementara pantatku terus bergerak untuk memompa sperma

keujung kontolku.


Evie berkali kali merintih karena ia kembali mengalami orgasme, padahal aku belum apa apa sama sekali.

Karena kurasakan memek Evie licin sekali, maka aku mengeluarkan kontolku dan kubersihkan memek Evie

dengan handukku agar lebih kering dan tidak terlalu menimbulkan suara, Evie hanya diam saja, dia benar

benar sudah keok, tangannya terentang dan pahanya mengangkang sementara dispreiku penuh dengan bercak

bercak lendir dari dalam memek Evie. Ketika sudah cukup kering, kembali aku mengarahkan kontolku keliang

memek Evie, Evie sendiri membantuku dengan merentangkan liang memeknya agar aku mudah untuk menyelipkan

kontolku diantaranya.Cerpen Sex


Mendadak saja, kami sama sama terperanjat karena dipintu terdengar ketukan serta suara Vera yang

memanggil namaku. Evie segera mendorong tubuhku dan mengambil dusternya, dengan tergopoh gopoh ia lari

kejendela dan melompat keluar dari jendela yang tertutup kerimbunan pohon pohon itu, sebelumnya masih

sempat ia mencium serta menggigit bibirku sambil berpesan agar nanti malam aku datang kekamarnya. Aku

hanya tersenyum, setelah kulihat Evie sudah lenyap, aku segera memakai handukku lagi dan membuka pintu

untuk Vera. Vera terkejut melihat wajahku yang merah padam serta tubuhku yang penuh keringat itu. Ia

bertanya dengan pelan


” kenapa ngana Roy ?” Kujawab kalau aku barusan berolahraga, tanpa kusuruh Vera masuk kedalam kamarku

dan berkeliling memeriksa kamarku itu, aku diam saja melihat tingkah adik iparku itu, ketika ia melihat

bercak bercak dispreiku ia menoleh kearahku dan tersenyum

” itu apa Roy ?” Aku agak gelagapan juga mendengar pertanyaan Vera itu, aku terdiam dan tak menjawab

sedang Vera sendiri juga tak bertanya lagi, hanya matanya saja yang menatap tonjolan kontolku yang ada

dibalik handuk itu. Slot Online Terpercaya


Ketika kupersilahkan untuk duduk, Vera langsung duduk dikursi sambil berkata,


“Roy ayo kita makan, Mamie menunggu”.

“Tunggu ya Roy mau ganti dulu ya !”. Meskipun tahu kalau aku mau ganti pakaian, Vera tetap saja duduk

dikursi itu, aku jadi salah tingkah, apakah memang Vera ini juga doyan seperti yang lainnya ? Karena

sudah dua kali mendapat green light, kali ini aku juga mau mencoba rejekiku, paling tidak aku bisa

menunjukkan pada Vera kontolku yang seperti anak kucing itu, pasti dia tak akan pernah lupa sampai

kapanpun.


Dengan pikiran seperti ini, aku langsung saja melepaskan handukku sehingga kontolku yang masih ngaceng

itu, langsung menyembul keluar. Meskipun posisiku agak jauh dan menyamping disisi Vera, tetapi aku yakin

Vera melihat keadaanku yang telanjang itu,.Sengaja aku minta tolong Vera untuk mengambilkan parfumku

yang ada dimeja, dengan tenang Vera berjalan kearahku sambil tersenyum senyum katanya


“Roy barang ngana mengerikan ya, kenapa dingin begini kok malahan berdiri ? Aku menjawab dengan cepat,

” Dia berdiri karena melihat kamu yang tak pakai beha itu ! Susu kamu membuat dia marah marah ! Vera

tertawa menyeringai.


Memang dari balik dusternya yang tipis jelas sekali kelihatan kalau Vera tidak memakai beha, susunya

besar dan padat sekali, bahkan pentilnya kelihatan menonjol.


“Susu kamu besar sekali Ver, punya Novie tak ada apa apanya dibanding punya kamu lho ! Vera hanya

tertawa, malahan ia sengaja membusungkan dadanya sambil berkata

” Ia dong, ini kan Vera rawat baik baik, setiap hari Vera massage biar montok dan kencang ! Ketika Vera

menyerahkan botol parfum itu, langsung saja kutangkap tangannya dan kutarik Vera sehingga susunya

menempel didadaku yang telanjang itu, Vera hanya tersenyum sambil memandangku, langsung saja aku cium

bibirnya yang merekah tipis itu.


Vera dengan hangat membalas ciumanku, sementara tangannya langsung saja sudah meremas kontolku. Ketika

kuremas susu Vera, Vera malahan menyuruh aku membuka dusternya itu, ketika sudah kubuka, Vera langsung

berjongkok dan mengulum kontolku itu. Kuluman Vera benar benar ganas, dijilatinya ujung kontolku serta

dikulumnya kontolku sampai habis dan digigitnya pelan pelan. Aku yang sebenarnya sudah kebal selama

permainan dengan Evie tadi sekarang benar benar jadi keenakan.


Cepat cepat kutarik kontolku dan kudorong Vera ketempat tidur untuk langsung kusetubuhi, Vera mandah

saja ketika kudorong ketempat tidur, ketika kuturunkan celana dalam Vera, aku terperangah karena tidak

seperti mertuaku atau seperti kakaknya, Vera sama sekali tak berjembut, memeknya licin, persis seperti

bayi, ketika kubuka liang memeknya, itilnya yang merah itu kelihatan sudah membatu. Aku langsung naik

keatas tempat tidur dan kutindih Vera sambil mengarahkan kontolku keliang memeknya itu. tetapi Vera

merangkulku sambil berbisik


“Roy, ngana masih perawan, masukan saja dipantat ya ” ! Aku terkejut lagi mendengar pengakuan Vera ini,

Vera langsung mengganjal pantatnya dengan bantal sambil mengangkat kedua pahanya tinggi tinggi.


Kulihat memek Vera memang masih rapat seperti garis, tetapi lubang pantatnya yang justru agak menganga

menanti coblosan kontolku. Langsung saja aku mendekatkan kontolku keantara kedua selangkangannya dan

dengan tenang Vera menuntun kontolku kearah liang pantatnya itu. Ketika sudah tepat arahnya, Vera

menepuk pundakku sementara matanya terpejam erat. Dengan pelan pelan kudorong kontolku memasuki liang

pantat Vera, terasa peret sekali dan agak sulit untuk maju. Kulihat Vera agak menyeringai merasakan

desakan kontolku yang besar itu diliangnya, tetapi dia malahan menekan pantatku agar kontolku bisa masuk

makin dalam.


Dengan lancar akhirnya kontolku bisa masuk semuanya, tanpa menunggu dua kali aku langsung menggoyang

pantatku mendayung Vera. Vera dengan sigap menarik kepalaku dan menciumi bibirku, dengan bibir yan

bertautan aku terus merasakan kenikmatan pantat Vera yang seret itu. Tanganku asyik meremas susu Vera

yang montok dan kenyal itu dengan penuh nafsu. Rasa nikmat yang kudapat benar benar lain daripada yang

lain, belum lagi rasa kuatir ketahuan oleh orang, karena sebenarnya aku kan diajak makan, menyebabkan

nafsuku makin memuncak sehingga mendadak spermaku sudah menyemprot nyemprot dalam liang pantat Vera.


Vera sendiri menggigit bibirku, rupanya dia juga mencapai kenikmatannya dengan hanya berciuman dan

diremas remas susunya. Ketika aku sudah merasa lega, langsung aku cabut kontolku dan Vera sendiri

langsung memakai dusternya serta lari keluar kamarku tanpa berkata apa apa lagi. Aku tertawa geli, tak

kusangka bahwa seisi rumah ini dapat kulahap dalam sekali jalan. Andaikan saja Novie ikut, berarti aku

sekaligus akan menyantap 4 orang.

Cerita Sex Keluarga Istriku

Lensa Bokep Nada4D - Cerita Sex Tante Dan Berondong, Tak hanya cerita tante girang, cerita seks juga menceritakan tentang seorang brondong yang menjadi

pelampiasan birahi para tante girang yang haus seks, haus dengan kepuasan seks yang selalu menjadi

tujuan para tante girang. berikut cerita lengkapnya.


Pagi itu cerah sekali. Aku bangun dengan tubuh dan perasaan yang benar-benar fresh. Hari ini hari Sabtu,

berarti aku libur dari pekerjaanku sebagai seorang sekretaris direksi sebuah dealer mobil mewah di

kawasan S, Jakarta. Hari ini aku rencananya akan menghabiskan weekend di rumah sahabatku, V di kota B

(tau kan kotanya ?). Oh ya, namaku *****, teman-teman biasa memanggilku Celyn, usiaku saat ini menginjak

kepala 3, tapi aku belum menikah karena masih menikmati hidup tanpa ikatan, tapi bukan berarti aku tidak

punya pacar. Pacarku namanya Josh, di kerja di perusahaan trading. Kami sudah menjalin hubungan selama

satu setengah tahun.


Kok jadi ngomongin diriku ya? (narsis banget ya?). Anyway, aku segera bangun untuk bersiap-siap. Aku

segera menuju kamar mandi. Seperti biasa, aku langsung melepas piyamaku. Setelah tidak ada sehelai

benangpun di tubuhku, akupun mulai menggosok gigi. Sambil menggosok gigi, kuperhatikan tubuhku dicermin

yang ada didepanku. Tubuhku memang montok, apalagi di bagian pinggul karena aku hampir tidak ada waktu

untuk fitness, tapi toh aku tidak perduli, aku bahagia dengan tubuhku ini. Slot Online Terpercaya


Sambil menyikat gigi ku pegang payudaraku, yang menurutku biasa saja, tapi tidak menurut teman-temanku.

Menurut teman-temanku payudaraku seperti mau tumpah, mungkin karena aku selalu memakai bh yang tidak

menutupi semua buah dadaku. Aku terus meraba buah dadaku sambil terus menyikat gigi, rasanya geli…lama-

lama aku justru lebih fokus pada remasan tanganku daripada menyikat gigiku. Akhirnya aku tersadar…

kuputuskan menghentikan kegiatan menyenangkan diriku itu lalu bergegas bersiap-siap.


Setelah memasukkan barang ke H…. J…ku (nanti dikira dapet sponsor), aku segera melaju ke arah tol menuju

B. Sebelum berangkat aku sempat meminta alamat V, dan dia segera mengirim SMS alamat lengkapnya. Bukan

sekali ini aku ke kota B, tapi Baru 2 minggu yang lalu Vina pindah rumah ke daerah CL, dan aku tidak

tahu sama sekali dimana itu. Aku pikir toh nanti bisa tanya sama orang di jalan.


Sesampainya di kota B, aku mulai mengikuti petunjuk SMS V untuk menuju ke rumahnya, tapi…jalanan di kota

B ini sangat membingungkan. Setelah berputar-putar aku memutuskan untuk bertanya. Di depanku aku melihat

kerumunan anak SMP yang baru pulang sekolah, aku lalu meminggirkan mobilku untuk bertanya pada salah

satu dari antara mereka.


“Permisi dik, mau tanya alamat ini”, sambil kutunjukkan isi SMS dari V.

“Oooh…dari sini lurus terus nanti ada toko CK, tante belok kiri terus belok kanan, nanti belok kanan

lagi, terus ambil kiri, terus ada tanjakan belok ke kanan. Naik terus nanti tanya aja lagi sama orang

disitu”, dia memberikan penjelasan panjang lebar.


Diberi penjelasan seperti itu aku langsung kebingungan, tanpa pikir panjang aku langsung minta tolong

padanya.


“Aduh, tante bingung nih! Kamu bisa anterin aja ga? Nanti tante kasih ongkos pulang” kataku.


Dia seperti kebingungan.

Aku pun berkata,


“Tenang ga akan diculik kok”, kataku sambil tersenyum.



Dia makin kelihatan kebingungan.


“Kalo kamu takut, ajak saja temen kamu”, aku meyakinkannya, karena aku sudah pusing mencari alamat V.


Akhirnya dia setuju dengan syarat boleh mengjak temannya dan diberi ongkos pulang.


Dia pun mengajak dua orang temannya. Aku menyuruh salah satu dari mereka untuk duduk di depan sebagai

penunjuk jalan, lagipula aku tidak mau dikira sepagai sopir antar jemput anak sekolahan


Didalam mobil aku berkenalan dengan mereka. Yang duduk didepan bernama Fariz, sedangkan dua temannya

yang duduk dibelakang bernama Dharma dan Aziz. Dari obrolan kami ku ketahui mereka baru kelas 2 SMP.



Selama perjalanan kuperhatikan mereka semua mencuri-curi pandang tubuhku. Saat itu aku mengenakan tank

top biru muda dan hot pants. Yang paling kuperhatikan tentu saja Fariz karena dia duduk didepan. Setiap

kali kuperhatikan dia langsung membuang muka, karena takut ketahuan olehku. Umur-umur segitu anak cowok

memang memiliki fantasi seks yang luar biasa. Fariz terus saja mencuri pandang buah dadaku yang “luber”.

Akhirnya kuputuskan kubiarkan saja mereka melihat payudaraku, kupikir sebagai bahan masturasi mereka

nanti…


Akhirnya sampai juga kami di rumah V.

Vina langsung menyambutku, tapi dengan tatapan heran.


“Siapa itu Cel?”, tanyanya.

“Oh..mereka guide”, kataku sambil tersenyum pada mereka.

“Masuk dulu yuk!”, ajakku pada mereka.

“Ga buru-buru kan?”, tanyaku lagi.


Akupun mengambil tas kecilku. Aku dan Vina masuk mendahului mereka.


Rumah V –menurutku sih villa, bukan rumah- berada didaerah yang elite, sehingga jarak antar tetangga

tidak terlalu dekat.


Vina juga hidup sendiri, sama seperti aku. Dia editor sebuah majalah wanita.

Begitu masuk rumah, Vina langsung menunjukkan kamarku, “kamar lo di atas ya Lyn, yang itu tuh”, katanya

sambil menunjukkan kamarku.


Kita ngobrol dibawah yuk, katanya kepada ketiga anak itu sambil turun menuju ruang tamu.

Aku pun menuju kamarku, ketika baru teringat bahwa aku lupa membawa tas yang berisi pakaian.

Aku pun memanggil Fariz,


“Riz, bisa minta tolong ambilkan tas tante yang hitam di mobil?”.Fariz tampak terkejut,

“Bisa tante”.

“Tau cara bukanya kan?”, tanyaku lagi.

“Tau kok!”, jawabnya.


Akupun memberikan kunci mobilku kepadanya.


Iklan Sponsor :


Akupun menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku langsung menutup pintu dan menuju kamar mandi, aku

sudah tidak tahan menahan pipis sejak di tol tadi.


Ketika aku baru mengeluarkan pipisku, tiba-tiba Fariz masuk.


Akupun terkejut. Sial, aku lupa mengunci pintu kamar dan lupa menutup pintu kamar mandi karena sudah

tidak tahan.

Fariz tampak terkejut melihatku sedang duduk di toilet,


“Ma..maaf tante, saya lupa mengetuk pintu”. Dia terpaku di depan pintu.


Cepat-cepat kubilang padanya,


“Udah cepet masuk tutup pintunya, tar keliatan orang!”.


Masih kebingungan diapun masuk dan menutup pintu, matanya masih terpaku padaku.


“Lihat apa kamu?”, tanyaku menyadarkannya.

“Eh..ngga liat apa-apa tan”, katanya sambil membalikkan badan.


Setelah selesai akupun berkata padanya, “Maaf ya, tante lupa kunci pintu”.


“Ng…ga pa pa tan, saya keluar dulu”, katanya.


Busyet polos amat anak ini, pikirku. Tiba-tiba muncul niat isengku, melihatku pipis saja sudah

kebingungan bagaimana kalo melihatku bugil?



“Riz, tante bisa minta tolong lagi ga?”, pertanyaanku menghentikan langkahnya.

“Bi..bisa tan”, rupanya dia masih shock.

“Tolong pijitin tante dong, tante pegel nih nyetir dari J”, tanyaku.


Rupanya permintaanku ini lebih mengagetkannya. Niat isengku semakin menjadi-jadi.


“Nanti tante tambahin deh ongkosnya”, tambahku lagi.


Rupanya kata-kataku yang terakhir ini membuat dia tersadar.


“Bo..boleh deh tan”, katanya.


Aku pun memanggil V untuk meminta lotion untuk membalur tubuhku.


“Mau ngapain lo?”, tanya Vina setengah berbisik kepadaku.

“Mau tau aja”, kataku kepadanya.


Vina yang merupakan petualang seks sejati langsung mengerti maksudku.


“Bisa aja lo cari variasi”, katanya lagi. “Bisa ikutan dong?”, tanyanya.

“Tuh masih ada dua lagi”, kataku sambil menunjuk Dharma dan Aziz.

“Wah cerita baru buat blog gue nih”, katanya bersemangat.


Diapun memberikan lotion kepadaku.

Akupun menutup pintu tanpa kukunci, toh tidak ada siapa-siapa selain kami berlima dirumah ini.


“Nih lotionnya”, kataku sambil menyerahkan lotion kepada Fariz.


Akupun menuju kamar mandi, lalu keluar lagi dengan hanya mengenakan handuk. Aku telah melepaskan semua

pakaian dalamku. Perasaan ini mulai membuatku bergairah.


Fariz tampak terkejut melihatku, karena handuk yang kukenakan benar-benar hanya menutupi payudara dan

kemaluanku saja.


Aku pun berbaring telungkup di tempat tidur dan menurunkan handukku sehingga hanya menutupi bagian

pantatku.


“Ayo..tunggu apa lagi”, kataku kepada Fariz yang tampak tertegun melihat tubuhku yang hampir telanjang.


Diapun duduk disebelahku dan mulai menuang lotion ke atas punggungku. Fariz pun mulai memijitku.

Aku berusaha memulai pembicaraan untuk memecah kesunyian.


“Kamu sekarang kelas 2 SMP ya. Udah punya pacar?”, tanyaku.

“Be..belum tan”, jawabnya gugup.

“Kamu kok grogi gitu? Belum pernah mijit cewek ya?”, tanyaku jahil.

“Be..belum pernah tan”, jawabnya singkat.

“Udah..kamu pijit kaki tante aja, soal pegal”.


Farizpun mulai memijit kakiku.


“Agak keatas sedikit Riz”, kataku sambil mengarahkan tangannya ke pahaku.


Dia tampak semakin gugup.

Pijatan didekat daerah kemaluanku membuatku secara tidak sadar melebarkan pahaku, menurutku Fariz dapat

melihat bulu kemaluanku yang tidak terlalu lebat itu.


“Tapi kamu pernah masturbasi kan?”, kataku mulai memancing.

“Mmm….”, dia terdiam.

“Ga mungkinlah seumuran kamu belum pernah masturbasi”, kataku lagi.

“Pernah tan”, jawabnya pelan.

Kamipun terdiam.


“Agak keatas lagi Riz”.


Farizpun memijit dekat pantatku.


“Udah pernah ML?”, kataku makin tak tahan.

“Be..belum tan”.


Wah perjaka batinku. Aku pun menarik handuk yang menutupi pantatku sehingga kini aku benar-benar bugil.

Fariz benar-benar terkejut.


“Sekarang pijitin pantat tante aja, dari tante duduk nyetir terus”.


Farizpun mulai memijit pantatku yang montok bersih itu. Akupun makin lama makin melebarkan kedua pahaku.


“Riz…”.

“Iya tan”.

“Kamu mau pegang ‘itu’ tante?”, tanyaku nakal. “Pegang aja Riz, ga pa pa kok”, pancingku lagi.


Fariz memindahlan tangannya dari pantatku kea rah kemaluanku. Dia mulai memegang bulu kemaluanku.

Nafsuku makin tidak tertahan.


“Gerakin tanganmu maju mundur Riz”, kataku mengarahkan.


Arizpun mulai menggerakkan tangannya di atas kemaluanku. Gesekan antara tangannya dan bulu kemaluannya

makin membuat vaginaku basah. Akupun sedikit menunggingkan badanku untuk mempermudah tangan Fariz

bermain di atas kemaluanku.


“Masukin jari tengah kamu Riz”, pintaku setengah memohon.


Farizpun mulai mengerti jalannya permainan ini. Dia mulai memasukkan jari tengahnya kedalan vaginaku

sambil terus menggosok-gosoknya. Sentuhan tangannya sesekali menyentuh klitorisku, dan itu makin

membuatku bernafsu.

Suaraku makin lama makin meracau karena keenakan.


“Iya Riz..yang itu. Gosok ‘itu’ tante Riz”.

“Yang mana tante?”, katanya polos.


Akupun tersadar, dia masih terlalu polos.


Lalu aku membalikkan tubuhku, sehingga Fariz kini dapat melihat seluruh rubuhku yang telah bugil dengan

leluasa.


“Kamu mau pegang payudara tante?”, tanyaku sambil memgang kedua tangannya dan mengarahkannya ke kedua

payudaraku.


Aku meremas tangannya sehingga tangannya itu meremas kedua buah dadaku.

Setelah meremas-remas buah dadaku, aku pun menarik kepala Fariz dan mengarahkannya ke dadaku. Diapun

mulai menjilati putingku, mataku terpejam akupun makin mendesah tidak karuan.


“Oouuh…aaahh…euuhhh…”, aku mulai liar.


Tanganku tidak tinggal diam. Aku mulai meraba celana Fariz dan memegang kemaluannya yang aku yakin sudah

tegang dari tadi. Tanganku menarik retsletingnya dan mengeluarkan kemaluannya. Tidak terlalu besar,

hanya sedikit lebih panjang dari genggamanku, mungkin karena ia masih kelas 2 SMP. Tanganku mulai

memainkan kejantannya, aku mulai mengocoknya.


Akhirnya aku berhenti. Akupun duduk dan mulai melucuti seragam Fariz. Kulihat badannya yang masih polos

itu. Kemaluannya baru sedikit ditubuhi bulu-bulu halus. Aku menyuruhnya terlentang. Akupun mulai

melakukan oral kepadanya dalam posisi berlutut.


“Hmmph…mmph…mmphh”, suara mulutku yang sedang mengulum batang kemaluannya sambil tanganku memainkan

kedua bolanya. Slot Online Terpercaya

“Aahhhh…ahhhh…enak tan”, Fariz berteriak keenakan.


Fariz merubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Tangannya kini memainkan buah dadaku. Sesekali aku

berhanti mengulum batang kejantanannya untuk menikmati remasan tangan Fariz. Tangan kiriku kini beralih

memainkan klitorisku. Aku benar-benar menikmati semua ini.


Tiba-tiba Fariz berteriak,


“Aa..aa..aaahhhhh, geli banget tan. Aaahh..aaahh…aaahhh…ma..ma..ma u kkkelluuaaarrr”, aku makin

mempercepat mulutku dan makin menghisap kuat-kuat batang kejantannya.


Tidak berapa lama…..


“AAAAHHHHHHH…AAAHHHHHH…AAAAHHH HHH”, Fariz mengeluarkan cairan spermanya didalam mulutku.


Aku sempat terkejut, karena banyak sekali cairan sperma yang dikeluarkan anak kelas 2 SMP ini. Tapi itu

kupikir karena jarang sekali bermasturbasi.


Sperma yang telah dikeluar didalam mulutku ku keluarkan lagi ke atas batang kemaluannya, hanya untuk

kuhisap lagi. Fariz terlihat begitu menikmati oral seks ini. Akhirnya kutelan semua sperma Fariz, dan

kuhisap lagi kemaluannya untuk membersihakan sisa-sisa spermanya.



“Enak Riz?”, tanyaku puas.

“Enak banget tante. Beda ya sama masturbasi”, jawabnya polos.


Aku hanya tertawa sambil menjawab,


“ada yang lebih enak, mau?”.


Akupun mulai mengulum kembali batang kejantanan Fariz yang telah terkulai. Aku sengaja melakukan oral

terlebih dahulu kepada Fariz, supaya nanti saat permainan utama dia tidak cepat ‘keluar’. Pelan-pelan

aku mulai menjilati kemaluannya. Posisi Fariz kini tiduran kembali dengan kedua kaki diangkat, sehingga

kepalaku berada dikedua pahanya. Jilatanku mulai berubah menjadi kuluman.  Semakin lama semakin cepat,

akupun mulai memperkuat hisapanku pada kepala penisnya. Sesekali paha Fariz menjepit kepalaku menahan

rasa geli di penisnya. Ketika penis fariz telah berdiri lagi aku menghentikan oralku.


“Eh..kenapa tante?”, tanyanya heran.

“Gantian dong, masa kamu aja yang enak?!”, kataku.

“Maksudnya?”.


Akupun mulai berbaring dan menarik Fariz ke pelukanku. Akupun mulai menciumnya. Mula-mula dia seperti

risih, tetapi permainan lidahku mulai mengajarinya untuk berciuman. Kami terus berpelukan sambil

berciuman, sesekali penisnya menyentuh klitorisku dan ini membuatku makin menggila. Puas berciuman aku

mengarahkan kepalanya ke bauah dadaku. Kini Fariz telah tahu apa yang harus dilakukan.


Nafsuku makin tak tertahan. Aku mengangkat kepala Fariz,


“Riz, jilatin ‘itu’ tante”.

“Yang mana tante?”.


Aku mengambil posisi bersandar pada pinggiran tempat tidur. Kutekuk pahaku dan kubuka lebar-lebar

pahaku. Kedua tanganku memegang vaginaku, jari-jariku menyisir bulu kemaluan. Setelah terlihat jelas

kemaluanku yang telah basah dari tadi, kutunjukan klitorisku dengan kedua jari telunjuk.


“Yang itu Riz, jilatin ‘itu’ tante”, pintaku setengah memelas.

“Yang ini tante?”, katanya sambil menyentuh klitorisku.


Sontak aku menggelinjang, sentuhan tangan Fariz pada klitorisku membuat tubuhku seperti melayang.

Dia tampaknya menikmati hal ini.


“Yang ini ya?”, tanyanya lagi sambil mulai memainkan klitorisku.

“Aaaahhhh…ii..iiyyaaa…yang itu. Ka..kha..kamu nakal ya”, kataku mulai terengah-engah.

“Aaaahhhh…oouuuhh….uuuhhhhh….j ilatin aja Riz”, kataku tak tahan sambil menurunkan kepalanya

kekemaluanku.


Fariz mulai menjilati vaginaku, mula-mula meras aneh, mungkin karena aroma khas vagina yang telah basah.

Akupun makin melebarkan pahaku, sambil tanganku membuka vaginaku agar tampak klitorisku oleh Fariz.


“Jilatin yang ini Riz”, kataku sambil menunjukkan letak klitoris.


Fariz mulai menjilati klitorisku dengan lidahnya. Akupun memegang kepalanya dan menggerakkan kepala

Fariz naik turun di atas klitorisku. Gerakan lidah Fariz yang kasar menari diatas klitorisku membuatku

hampir mencapai orgasme.


Cepat-cepat kuangkat kepala Fariz dan kutarik badannya kearahku. Dengan tisak sabar kupegang batang

kemaluannya yang telah keras kembali, kuarahkan ke vaginaku.



Cllep…bleessshhh…penisnya langsung masuk kedalam vaginaku yang sudah semakin basah.


“Aaaaahhhh…”, teriakku.


Aku mulai memegang pinggang fariz dan menggerakkannya maju mundur.

Plok..plok..plookk…cloopps…clo oppss….suara selangkangan kami beradu ditengah semakin banjirnya cairan

vaginaku.


“Ooooohhh…aaahhhhh…aaahhh…..aa ahhh….aaaa..aaaaa….aaaahhhh…te rus Riz…eennaaak”, teriakku.


Aku mulai manarik-narik rambutnya, sambil sesekali kuciumi Fariz dengan brutal.


“Hmmmppph..hmmmppp…aahhhh..hmm pphh…ooohhh….ohhh yyeesss..hmmmppphhhh”.


Kakiku kini melingkari pinggang Fariz agar penisnya bisa masuk sedalam-dalamnya kedalam vaginaku.

Tubuhnya menempel dengan tubuhku, kamipun bermandikan keringat. Sensasi bersetubuh dengan bocah polos

yang masih perjaka ini benar-benar membuatku bernafsu. Tangan Fariz mulai memainkan kembali buah dadaku.

Tidak berapa lama aku merubah posisi. Aku berjongkok di atas Fariz. Ku pegang penisnya dan kumasukkan

kedalam vaginaku.

Plok..plok..plok..vaginaku berbunyi karena sangat basah.


Kugoyangkan badanku maju mundur, penis Fariz melesak penuh kedalamku. Goyangan ini makin menggesek

klitorisku.


“Aaahhhhh…ooouuuhhhhh….eenaaaa kkkkkk”.


Aku tahu sebentar lagi fariz akan ejakulasi yang kedua, sehingga aku marubah posisiku menjadi “doggy

style”. Tubuhku bersandar pada sandaran temapt tidur. Fariz tanpa permisi langsung memasukkan penisnya

dengan tidak sabar.


“Ah!” jeritku.


Fariz makin tidak sabaran. Dia terus memompa vaginaku dengan batangnya, batang yang baru sekali ini

merasakan nikmatnya dunia. Dia terus menggerakkan tubuhnya maju mundur, makin lama makin cepat, sambil

tangannya memegang pinggulku.


“Ah..ah..ah…teerrruuus Riz….terruuusss…..aaaaahhhh”.

“Tan, Faarriizz maau kke…..lluaarr….giimaannaa nihhhh…..aahhhh…ahhh?”.

“Ahhh…aahhh…kkee…ahh…keeluaari nn aja Riz…aahhhhh”.


Plok..plook…clooppss….cloppss… .


Akupun mulai bersiap meneriam muntahan sperma fariz didalam vaginaku, akupun mulai mencapai orgasme yang

sejak tadi kutahan.


“Aahhhhh…tteerrruuussss Rizzzzz…tante ju….Ah!..ga mau keeluuuarrr……aaahhhhh…terusss” .


Fariz terus mempercepat kocokan penisnya di dalam vaginaku.


“aahh…ahhh..AAAAHHHHHHHHH….!!! !”


Fariz memuntahkan seluruh spermanya didalam vaginaku. Kurasakan semprotan kuatnya di dinding vaginaku,

seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Vaginaku langsung terasa hangat dan basah oleh cairan

spermanya, tapi aku tidak menghentikan goyangannya. Tidak berapa lama….


“Oh…oh…oh…ah..ah..ah..ah..ah.. AAAAHHHHHHH!!!!”, akupun berteriak karena orgasme.


Vaginaku makin basah oleh karena cairan kami berdua. Aku tidak membiarkan Fariz melepaskan penisnya dari

vaginaku, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku.


“Gimana Riz, lebih enak dari yang tadi kan?”, tanyaku.

“He..he..he..iya tan, jauh lebih enak”, jawabnya sambil mengikuti goyangan pinggulku.


Bersamaan dengan mengecilnya penis Fariz, keluar jugalah cairan spermanya dari dalam vaginaku. Cairan

sperma itu langsung menempel pada kami berdua. Aku langsung berbalik dan menghisap cairan sperma yang

ada pada penis Fariz.

Sambil merasa kegelian Farisz berkata, “Makasih ya tan, ga rugi nganterin tante”.

“Aku juga ga rugi dianterin kamu”, jawabku singkat lalu kembali mengulum penis Fariz.


Demikian cerita dewasa kali ini, yang memberikan sensai seks tinggi bagi para pembaca sekalian. mungkin

sebagian cerita ada yang di ubah, namun tak banyak merubah cerita asli dari pengakuan seorang tante

girang tentang kehidupan seks nya dengan sang brondong

Cerita Sex Tante Dan Berondong

Lensa Bokep Nada4D - Cerita Sex Tidak Takut, Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.

Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku,


‘Eh, tau kelas MI1-3 nggak?’. Eeiitttssss.., ternyata aku juga cari kelas itu.., lalu aku jawab,

‘mm.., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk’.

‘Saya Gita’ dia sebut namanya duluan.

‘Aku Iwan’, aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita.


Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah bentuk dadanya yang begitu menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.

Cerita Sex Tidak Takut

3 bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jateng, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari. Situs Slot Online Terbaik


Sampai akhirnya ia bertanya begini,


‘Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?’. Lalu aku jawab

‘Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho’.

‘Lho emang kamu pernah liat punyaku?’, tanya dia.


Aku bilang


‘Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh’. Dia tanya lagi sambil bercanda, ‘Kalo aku kasih kesempatan gimana?’. Aku jawab,

‘Yaa.., nggak aku sia-sia’in’.

‘Emang berani?’, tantang Gita.

‘Siapa takut..’, jawabku tidak mau kalah.

‘Kalo gitu bukti’in!’, kata Gita.

‘Oke.., kita cari losmen sekarang.., gimana?’, tantangku gantian.

‘Siapa takut..’, jawabnya tidak mau kalah juga.


Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata,


‘Wan, disini ajah.., kayaknya losmennya bagus tuh’.

‘Deg!!’, jantungku terasa berhenti.


Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya.


Terus dia berkata,


‘Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?’. Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.


Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata,


‘OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?’. Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur.


Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. Lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama. Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya.


Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya. Tiba-tiba ia berkata,


‘Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya’ Aku ragu-ragu.., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka jeansku.., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang,

‘Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang’ Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang.


Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir,


‘uugghh.., oohh..’, hanya kata itu yang Gita keluarkan.


Iklan Sponsor :


Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku? Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit, ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku,


‘oohh..’, kami sekarang benar-benar telanjang bulat.


Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi.


‘Hhmmhh.., uugghh.., sstt’, cuma itu yang dia katakan.


Ciumanku sudah ‘bosan’ di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya.


Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku.


‘sstt.., hh.., sstt..’, mulutnya berdesis seperti ular.


Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan t’. Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata,Cerpen Sex


‘Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt’.


Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil,


‘Wan.., Iwan.., uugghh.., sekarang ajjaah.., masuk’iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.., plizz..’. Aku langsung di dorongnya.


Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. Situs Slot Online Terpercaya


‘uugghh..’, sedang aku sedikit berteriak, ‘aahh’. Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya.


Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata,


‘oohh.., sshhtt.., uugghh.., sshhss.., sshhiitt.., aacchh.., oouuhh..’, nafasnya tidak lagi teratur. Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas,

‘uugghh.., oohh.., sshhsstt’. Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku.


Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar. Kali ini aku yang mengambil alih ‘kekuasannya’ gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya. Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan ‘adikku’ ke lubang vaginanya.


‘Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..’, Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya.

‘oohh..’, dari mulutku keluar kata tersebut.


Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya.


‘uugghh.., aahh.., Sshshhss.., oohh.., uugghh..’. Tiba-tiba ia berteriak,

‘Iwaann.., sshh.., oohh’, aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi,

‘oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku..’. Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.

‘oohh.., uugghh’, banyak sekali cairanku keluar.

‘Terus Wan.., keluarin semuanya..’, pinta Gita.


Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku.


‘Gita sayang sama Iwan’, hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku.

‘Iwan juga sayang sama Gita’, kataku. Akhirnya sejak itu aku dan Gita resmi pacaran.

Cerita Sex Tidak Takut

Lensa Bokep Nada4D - Cerita Sex Rumah Penuh Dosa, Apakah lingkaran setan ini tidak akan pernah berakhir? Aku bersumpah iblis telah memilih keluarga saya sebagai rumahnya incest. Semuanya dimulai dengan saudari perempuanku, ibuku, dan saya.


Ortuku bercerai ketika aku masih anak-anak dan saya tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ayah saya dan ayah saya di sebuah peternakan. Aku adalah anak kesayangan ibuku. Hampir setiap malam aku menangis dan memohon agar ayah mengijinkan aku untuk tinggal bersama ibuku. Beberapa kali ayah minta kepada ibu untuk bisa rujuk, tapi ibu saya selalu menolaknya, dan akhirnya pada usiaku yang ke 18, ayah saya bunuh diri.


Karena saya adalah seorang anak yang nakal, kakek dan nenek yang sering dibuat pusing oleh tingkah laku ku, akhirnya bertanya pada ibuku apakah dia bersedia membawa saya. Mengingat bahwa saya adalah anak kesayangannya, ibu langsung setuju untuk merawat kembali saya, bahkan katanya “dari dulu juga aku sudah meminta agar Doni tinggal bersamaku, sayang ayahnya bersikeras untuk membawa dia” kata ibu pada kakek dan nenek.


Aku jarang bisa bertemu dengan ibu saya karena dia sibuk mengelola restoran miliknya. Hal ini menyebabkan saya lebih banyak tinggal dengan kedua saudari perempuan saya, yaitu Lena dia setahun lebih tua dariku, serta adik perempuan saya Marta yang baru berumur 13 tahun. Kedua saudara perempuanku itu tampak lebih dewasa dibanding usianya, serta merupakan duplikat yang sempurna dari ibuku, buah dada yang besar, pinggang ramping dan cantik, pantat yang bahenol, rambut hitam, mata coklat, bibir mungil berwarna merah, dan hidung mancung melengkapi penampilan mereka yang menakjubkan. Mereka begitu mirip satu sama lain, seakan-akan mereka kembar 2, oh lupa kembar 3 dengan ibuku.. Situs Slot Online Terpercaya


Di umur 18 tahun saya, hormon kelelakian saya sedang memunca-muncaknya, sebagai akibatnya saya secara tetap terangsang oleh hampir setiap bagian tubuh wanita yang saya lihat, sering sekali aku mengkhayalkan bercumbu dengan wanita. Apalagi aku yang dulunya tidak terbiasa dikelilingi wanita, kini tinggal dengan 3 orang wanita cantik sekaligus dengan ulahnya masing-masing.


Saudara perempiuanku sering berjalan didalam rumah, dengan hanya mengenakan CD dan BH, sedang ibuku setiap malam setelah mandi malam, mengenakan baju tidur yang yang memperlihatkan sebagian besar tubuhnya, kalaupun tertutup rapat, baju yang dikenakannya pasti tipis transparant. Aku belum pernah melihat seorang wanita yang benar-benar dalam keadaan bugil, namun untuk beberapa alasan, saya memiliki keinginan kuat untuk melihat rambut kemaluan wanita lebih dari bagian tubuh mereka yang lainnya.

Ibuku yang menyadari bahwa aku mungkin mengalami trauma akibat peristiwa bunuh diri ayahku, mencari cara untuk menghilangkan apa yang dia percaya sebagai kesedihan terpendam atas kematian ayah. Karena itu saat seorang pelanggan restorannya menyarankan agar aku dikirim untuk ikut kegiatan camping yang dikelola oleh sebuah gereja, maka ibu langsung setuju, dan mendaftarkan aku sebagai salah seorang pesertanya. Dia pikir ini akan mengalihkan pikiranku dari bunuh diri ayahku. Aku sendiri sebenarnya enggan untuk pergi, kalau boleh memilih maka aku lebih memilih untuk tinggal dirumah, tapi aku tidak memiliki alasan yang kuat untuk menolaknya.


Akhirnya terpaksa aku ikut juga. Setelah tiga hari melakukan kegiatan camping, suatu sore aku melihat kesempatan untuk mengintip para gadis yang sedang mandi. Diluar kamar mandi perempuan, tepat dibawah jendela terdapat tangki air seribu liter, jika aku naik keatasnya maka aku akan bisa mengintip kedalam kamar mandi perempuan.


Tanpa membuang waktu lagi, segera aku naik keatas tangki tersebut, terlihat didalamnya beberapa orang gadis, yang seorang kutaksir usianya sekitar 18 tahunan, yang lainnya adalah remaja putri dengan usia yang bervariasi sedang mandi dibawah shower. Hampir sepuluh menit mataku melotot melihat tubuh-tubuh telanjang tersebut, mataku sempat meneliti seluruh tubuh mereka, terutama pada bagian rambut kemaluannya. Sungguh suatu pengalaman yang fantastis.


Sayang rupanya ulahku itu ketahuan oleh seorang pendeta, yang segera menghubungi ibuku, “di dalam kegiatan gereja tidak ada tempat bagi seorang anak laki-laki seperti anak ibu” katanya kepada ibuku, karena itu ibu langsung menjemputku malam itu juga. Aku yang tidak menyangka bahwa ulahku diketahui seseorang, sangat terkejut saat ibu datang menjemput, dan saya sangat malu sampai aku tidak bisa berbicara sepanjang perjalanan pulang. Kedua saudari saya yang duduk di kursi belakang cekikikan. Untungnya, tidak ada satupun yang dikatakan oleh mereka yang bisa menyebabkan bertambah parahnya penderitaan yang kualami.


Pagi berikutnya aku bangun pagi-pagi, karena merasa kebelet untuk kencing aku segera pergi kekamar mandi untuk buang air kecil, akupun segera kencing setelah menutup pintu, yang kulanjutkan dengan menggosok gigi. Baru saja pasta gigi kuborehkan diatas sikat gigi, pintu kamar mandi diketuk lalu terdengar suara Marta adikku


“Bang, buka sebentar” katanya.


Aku segera membuka pintu kamar mandi dan bertanya “ada apa?”, “Boleh aku sekalian ikut mandi?” tanyanya.


“Boleh saja, tapi aku juga tidak lama kok paling cuma butuh satu menit,” kataku.

“Ya sudah aku mandi sekarang, aku juga tidak keberatan kok abang menonton aku mandi” jawabnya sambil langsung membuka seluruh bajunya hingga kini dia berdiri telanjang bulat dihadapan saya.

“Tolong sabunnya” pintanya kemudian, wajahku terasa panas dan terlihat merah padam dari pantulan kaca cermin yang ada dikamar mandi, sementara itu batang penisku langsung tegang kaku menonjol dari balik celana piyama yang saya kenakan.

“Mmmm. saya lihat penis abang besar dan panjang, “katanya sambil melihat kearah selangkanganku.

“Pernahkah abang bercinta dengan seorang gadis sebelumnya?” tanyanya lebih lanjut.

“Err, ti… tidak” kataku sedikit tergagap sementara mataku melotot melihat buah dadanya yang sudah tumbuh lebih besar dari ukuran anak seusianya, besar payudaranya tidak berbeda dengan besar payudara gadis yang kemarin aku intip,

“kenapa bang? apa abang tertarik melihat payudaraku? abang ingin menyentuh payudaraku? saya tidak keberatan kok” kata Marta sedikit acuh tak acuh.


Aku menelan ludah dan berkata,


“a…aku sangat ingin sekali” kataku dengan suara terputus dan parau, tanpa membuang waktu lagi aku menangkup kedua payudara dengan kedua tangan dan meremasinya.


Terasa payudaranya yang tegak menantang tersebut sangat halus dan kenyal ditanganku, sedang kedua putingnya yang berwarna kemerahan sungguh menggiurkan bagaikan sepasang anggur dari surga.


“Ini…ini sungguh sangat indah dan mengundang.., bolehkah…bolehkah kuhisap?” kataku sambil mengelus sepasang puting tersebut.

“Hisaplah kalau abang mau” jawabnya, tanpa banyak bicara lagi kuturunkan mukaku dan kuhisap puting payudaranya.

“Apakah ini yang abang ingin lihat ketika abang mengintip melalui jendela kamar mandi di kamp?” tanya Marta kepadaku saat aku mulai menurunkan mukaku,

“akhh…” desahnya saat aku mulai menghisap puting tersebut, sementara badannya sedikit tergeliat.


Kunikmati emutanku pada puting payudaranya, kurasakan badannya sedikit gemetaran saat aku mengemut putingnya, setelah beberapa lama baru aku menjawab “ya, tapi yang aku benar-benar sangat ingin melihat adalah rambut kemaluan perempuan, saya sangat suka melihat vagina yang tebal dan tembem seperti punya kamu Mar.. boleh aku menyentuhnya? tanyaku”


“Boleh, asal aku boleh menyentuh penis abang,” jawabnya.


Dengan tergopoh-gopoh saking gembiranya, aku segera memegang vaginanya, sejenak keremas mount pubicnya yang ditumbuhi rambut kemaluan yang halus dan masih jarang, jari-jariku perlahan menembus sela-sela rambut kemaluannya, dan kuelus belahan vaginanya yang terasa basah dan hangat.


Iklan Sponsor :


Tubuh Marta kembali tergeliat,


“akhh….” desahnya saat jariku mengelus belahan vaginanya, sementara itu air madi mulai mengalir dari lubang kencing saya, cairan pelicin yang berfungsi untuk memudahkan penis masuk kedalam lubang vagina.


Jariku mulai mengulir-ulir tonjolan daging yang berada tepat pada bagian atas bibir vaginanya. Tubuh Marta kembali tergelia


“Akhh…” desahnya serasa menggetarkan jiwaku.


Lalu jariku mulai mengelus daerah sekitar lubang vaginannya, sejenak kutekan-tekan daerah disekitar itu, “apakah ada yang pernah memasukkan penisnya di sini?” tanyaku pada Marta, “pernah tapi hanya sekali, saat itu saya sedang berkencan dengan Toni, dia sangat ingin sekali memasukkan batang penisnya kesana, tapi setelah itu aku putus dengannya, sejak itu aku tidak pernah melakukannya lagi, tapi aku suka cara abang menyentuhku” jawabnya polos.


Sungguh aku nyaris tidak percaya adikku yang baru berusia 13 tahun sudah bukan perawan lagi. “Banyak teman perempuan kamu yang telah melakukannya?” tanyaku lagi dengan suar semakin parau.


“Tentu umumnya teman-teman perempuanku sudah pernah melakukannya meskipun hanya sekali seperti aku” jawab Marta. “Kau… kau menyukainya ketika Freddie menyetubuhimu?”


“Yang bisa saya ingat adalah, rasa sakit saat pertama penisnya masuk, sakit dan perih, tapi itu tidak berlangsung lama, Toni segera memuncratkan air maninya, membuat vaginaku basah kuyup oleh cairan kental. Tapi aku sedikit menyukainya, terutama saat batang penisnya menggesek lubang vaginaku. Apa abang juga ingin memasukkan penis abang ke sana? ” jawab Marta dengan nada polos dan wajah tidak bersalah.


“Tentu…tentu saja, apakah ibu sudah pergi?” tanyaku tergagap.

“Sudah… ibu sudah pergi kerestaurant, sedang kak Lena masih tidur, paling bangun juga nanti siang, abang lebih kenal kebiasaannya” jawab Marta padaku, lalu setelah terdiam sejenak dia melanjutkan

“mengapa kita tidak pergi ke kamar abang?” katanya.


Tanpa bicara lagi segera kubopong tubuhnya, dan kubaringkan ditempat tidurku, lalu dibawah selimut kami mulai saling menjelajahi tubuh masing-masing, kuremas-remas buah dadanya dengan gemas, sementara mulut kami tidak berhenti saling berpagutan, sementara lidah kami saling belit dan saling menggelitik dengan nikmatnya.Cerpen Sex


Saat kuturunkan ciumanku kearah lehernya, Marta segera tergeliat, saat bawah telinganya kuelus dengan ujung lidahku, “akhhh…” desahnya menikmati aksi yang kulakukan.


Lalu ciumanku terarah semakin kebawah, menyelusuri bahu dan dadanya, sampai dipangkal payu daranya yang sebelah kanan, sejenak aku menatapnya, lalu tanpa buang waktu lagi segera kukulum puting susunya, sementara sebelah tanganku meremasi buah dadanya yang lain.


“Akhhh… okhhh…” erang Marta tak henti-hentinya.


“Sekarang… bang.. sekarang masukkan, aku sudah sangat ingin merasakan batang penis abang yang besar ini dalam vaginaku” katanya sambil mengelus dan sedikit meremas batang penisku. Badanku tergeliat ketika merasakan elusannya.


Aku segera menelungkupi tubuhnya, kucoba mendorong batang penisku kedalam vaginanya.


“Aww… “ pekik Marta tertahan,

“bukan disana, rendahkan sedikit tubuh abang” katanya sambil memegang batang penisku dan menuntunnya kedalam lubang vaginanya.

“Sekarang dorong bang” pintanya padaku, dengan sekuat tenaga aku mendorong batang penisku, bles… terasa batang penisku mulai masuk seiring dengan pekik tertahan Marta “Akhhh…”.


Terasa dinding vaginanya dengan ketat menggesek batang penisku, sekali lagi kutekan pantatku kuat-kuat dan slebb… batang penisku masuk seluruhnya, kali ini Marta bukan hanya memiawik lirih “Akkhhh…” tapi badannya juga tergeliat kuat. Selanjutnya naluriku yang mulai bekerja, tanpa diperintah siapapun aku segera mengeluar-masukkan batang penisku dalam lubang vaginanya.


Sementara itu tanganku juga tidak berhenti meremasi kedua buah dadanya, dan mulutku mengulum bibirnya dengan lidah yang saling membelit. Ketika aku mengalihkan kulumanku pada puting susunya, terdengar Marta berdesah “akhh… enak bang gesekkan penis abang dalam lubang vaginaku terasa jauh lebih enak dibandingkan dulu dengan Toni” katanya.


Aku semakin memacu pompaanku pada vaginanya, karena ini baru kali pertama aku menyetubuhi perempuan, aku tidak dap[at bertahan terlalu lama, segera kurasakan kegelian yang nikmat pada batang penisku. Seharusnya aku menahan diri, tapi aku justru semakin mempercepat pompaanku pada Marta.


Tak lama kemudian pompaanku semakin tidak terkendali.


“Akhh… ak.. aku …okh” ceracauku dan crutt …crutt.. kurasakan air mani muncarat dari dalam batang penisku.


Seiring dengan itu Marta justru memutar-mutar pantatnya dengan cepat, kepalanya tertengadah dengan bibir digigitnya keras-keras “Okhhh…” lalu denga diiringi keluhan panjang Marta memeluk tubuhku erat-erat. Kami mencap[ai puncak kenikmatan secara hampir bersama-sama.


Sejenak kami terdiam kaku dalam posisi tersebut, lalu akhirnya aku menggulingkan tubuhku disisinya, setelah batang penisku yang mengerut lepas dari lubang vaginanya.


“Waw.. nikmat sekali, baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti itu, ini barangkali yang dinamakan orgasme yang bang?” bisik Marta ditelingaku.


Aku hanya terdiam tanpa mampu menjawab.


“Dengan Toni aku tidak merasakan seperti ini, ini bahkan lebih nikmat dibanding kalau aku masturbasi” celotehnya kepadaku.

“Pantas banyak pria dan wanita yang menikah, rupanya bersetubuh merupakan hal yang ternikmat di dunia ini” lanjutnya sambil meremas-remas kembali batang penisku,

“ini ternyata yang jadi penyebabnya” katanya lagi sambil tetap meremas-remas penisku.


Tak lama kemudian penisku mulai tegak kembali dengan gagah beraninya.


“Waw.. bang dia kembali berdiri” cetus Marta sambil cekikikan, aku tidak menjawab, tapi aku langsung menggumulinya kembali, sehingga cekikikan Marta berubah menjadi lenguhan nikmat

“akhh… abang nakal mempermainkan klitorisku terus” desahnya padaku.


Kurasakan dari lubang vaginanya kembali mengalirkan air nikmat yang membuatnya kembali basah, setelah aku mempermainkan kelentitnya beberapa lama.


Segera kunaiki tubuhnya kembali, kali ini tanpa dituntun lagi aku langsung memasukkan batang penisku pada liang vaginanya,


“awww…”pekiknya saat batang penisku masuk kembali kedalam vaginanya.

“Perlahan sedikit bang jangan terburu nafsu” pintanya sambil menggigit telingaku pelan.

“Hemmm…” hanya itu jawabku padanya, lalu tanpa banyak bicara lagi aku segera mengayunkan pantatku, memompa vaginanya.


Kali ini aku bisa bertahan dalam waktu yang lama, mungkin karena sebelumnya aku sudah memuncratkan air maniku, maka aku tidak segera muncrat kembali.


Rintih dan erang Marta berpadu dengan lenguhku,


“akh… okh….bang…akh…”,

“ehm..ugh..” aku semakin mempercepat pompaanku, kami tidak mempedulikan tubuh kami yang sudah bermandikan keringat, bahkan diwajah Marta kulihat keringat sebesar biji jagung mengembun di kening dan ujung hidungnya.


Semakin cepat dan semakin cepat aku mendayung, semakin cepat juga kurasakan pantat Marta bergoyang mengimbangi desakanku, sampai akhirnya


“bangggg…” serunya dan matanya terbalik keatas dengan kepala tertengadah, kurasakan tangannya mencengkram pantatku sampai kuku jarinya melukaiku”


“Okhhh…”erang Marta dengan tubuh mengejang kaku. Aku yang tidak bisa bergerak karena himpitan tangannya yang merangkul erat pantatku, terpaksa harus berdiam diri, hanya mulutku yang mengulum puting susunya, kuemut, kuelus dengan ujung lidah diselingi dengan gigitan pelan.


Saat kurasakan tubuhnya melemas, dan dekapan tangannya di pantatku mengendor, aku segera memacu kembali pantatku untuk bergerak naik turun diatas tubuhnya. Marta untuk beberapa lama masih berdiam diri dengan lemasnya, tapi kemudian pantatnya mulai bergoyang kembali melayani desakkanku.


Kembali terulang paduan rintih nikmat dan erang Marta dengan lenguhanku ,


“akh… okh….bang…akh…”,

“ehm..ugh..”. Kupercepat dan semakin kupercepat pompaanku, keringat bercucuran dari tubuhku dan tubuh Marta, kami betul-betul mandi keringat.


Sampai akhirnya, kembali kurasakan rasa geli yang nikmat menjalar di batang penisku.


“Mar… aku… aku…”kata ku terputus-putus karena desakan nafsu, tapi meskipun aku tidak mengatakan dengan jelas apa yang kumaksud, tampaknya Marta bisa menangkap maksudku itu terlihat dari jawabannya

“akhu… juga bang… mau…okh…” katanya sambil mengguncangkan pantatnya keras-keras.


Tak lama kemudian aku tidak lagi mampu menahan desakan di batang penisku.


Marta kembali mendekap pantatku erat-erat, didorongnya pantatnya keatas sambil mengguncangkan pantatnya ke kiri dan kekanan dengan keras,


“bangggg… akkkkkhhhhh…” erangnya seiring dengan itu aku merasakan pijatan yang ketat dan nikmat sekali di batang penisku. Diiringi lenguhku yang semakin keras

“Ugh…ehmmm…” aku memuncratkan air maniku yang kedua kali.


Setelah berdiam beberapa lama kami akhirnya pulih kembali dan sepanjang pagi itu aku dan Marta bersetubuh berulang kali, sampai sprei yang menutupi tempat tidurku basah oleh paduan ceceran air nikmat kami serta keringat yang mengucur dari tubuh kami. Marta kemudian mengganti sprei ku dengan yang baru dan membawa yang lama ke mesin cuci.


Sejak saat itu aku selalu bersetubuh dengan Marta setiap hari. Sedikitnya aku menyetubuhinya sekali di pagi hari, tapi seringnya aku menyetubuhinya beberapa kali dalam sehari, bahkan kadang malam hari pun kami bersetubuh juga jika keadaan memungkinkan.


Ibuku yang melihat Marta sudah menjadi gadis remaja menjelang dewasa mengijinkan Marta memakai alat kontrasepsi, karena ibu tahu bahwa banyak remaja yang sudah melakukan hubungan seksual pada masa kini. Dengan demikian aku tidak pernah memakai kondom saat aku bersetubuh dengan Marta.


Ibu tidak pernah tahu bahwa yang selama ini selalu menyetubuhi Marta bukanlah teman atau pun pacarnya, tapi aku kakak laki-lakinya. Sering sekali Marta mengatakan “Aku ingin berkuda tanpa pelana,” katanya padaku sebagai isyarat bahwa dia minta disetubuhi.


“Kau terlalu banyak membaca novel seksual” kataku padanya suatu hari, karena Marta sering sekali meminta posisi yang aneh aneh saat bersetubuh. Tapi aku sungguh sangat mencintai Marta terutama keahliannya dalam melayaniku bersetubuh.


Apartemen yang kami tinggali berada di tingkat dua sebuah gedung apartemen yang tingkat pertamanya digunakan untuk lahan bisnis. Tepat dibawah kami adalah toko yang menjual barang-barang dari kulit, seperti tas, jaket, sepatu dan barang-barang lainnya. Dimalam hari cahaya lampu jalan yang temaram sampai juga kedalam kamar-kamar kami. Pada saat-saat tertentu dimalam hari sering saya mencium bau kulit dari took dibawah dan saya cukup menyukai baunya, sedangkan suara kereta api juga terkadang terdengar sayup-sayup melintasi rel kereta yang berjarak kurang lebih 500 meteran.


Tata letak apartemen yang kami tinggali melebar, dengan kamarku dan kamar saudari perempuanku berada di sayap utara, bagian tengah terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan dan dapur, sedang sayap selatan terdiri dari kamar ibuku. Di kedua ujung sayap juga terdapat kamar mandi.


Sedangkan pintu masuk kedalam apartemen juga ada dua, yaitu yang satu dari ruang lobby, ini merupakan pintu utama dan terhubung pada jalan raya di depan apartemen kami, disana terdapat lift dan tangga yang menghubungkan setiap tingkat dari gedung apartemen, menggunakan jalan ini kita akan sampai pada pintu ruang tamu apartemen kami.


Pintu kedua adalah menggunakan tangga darurat yang berada disamping apartemen kami serta terhubung pada gang disamping gedung apartemen. Jika kita menggunakan jalan ini kita akan sampai pada pintu darurat yang terletak didalam dapur. Dapur itu sendiri berada dekat dengan sayap selatan, sehingga begitu kita keluar dari dapur kita akan keluar pada lorong depan kamar ibuku.


Tata ruang yang seperti ini juga memberi kebebasan pada ibuku saat dia berkencan dengan beberapa orang relasinya. Aku tahu persis bahwa ibuku terkadang memberi pelayanan seksual kepada relasi-relasinya tersebut, baik dengan tujuan memperlancar usahanya, maupun sekedar kencan biasa untuk kesenangannya. Pada umumnya relasi tersebut telah memiliki keluarga sendiri.


Saya ingat salah seorang teman kencan ibu adalah seorang salesman mobil bekas dengan istri dan dua anak yang berusia remaja. Aku tidak tahu apa yang membuat ibu tertarik padanya, mengingat meskipun ibuku menikah diusia muda dan telah memiliki tiga orang anak dari hasil pernikahannya dengan ayahku, cerpensex.com tapi ibuku adalah seorang wanita cantik yang awet muda, dengan bentuk tubuh yang masih tetap menggiurkan bagi laki-laki, bahkan aku yakin jika ibu mau ibu masih mungkin mendapatkan jodoh seorang perjaka. Itu terlihat jelas dari cara kaum lelaki memandangnya, apabila ibu keluar rumah.


Aku ingat saat pertama kali aku melihat ibuku telanjang, kejadian itu setelah kurang lebih satu bulan sejak aku dan Marta berhubungan seksual. Suatu hari seperti biasa aku kuliah dan pulang lebih awal dari biasanya, rupanya keluargaku termasuk ibuku menyangka bahwa aku yang biasanya sampai kerumah jam 10 malam, masih belum lagi akan pulang, karena hari baru menunjukkan pukul 7 malam. Hal itu terbukti kemudian dari tidak tertutupnya pintu kamar ibuku, meskipun aku heran kenapa ibu tidak memperhitungkan kedua saudariku. Saat itu karena malas memutar kedepan yang jaraknya lebih jauh aku masuk melalui pintu darurat yang biasanya merupakan tugasku untuk menguncinya.


Setelah aku masuk dan keluar dari dapur, kulihat pintu kamar ibuku terbuka, dan terdengar bunyi yang tak asing lagi suara decit batang penis yang keluar masuk di lubang vagina serta suara kepala ranjang yang mengenai dinding berulang-ulang. Penasaran aku langsung mengintip kedalam, meskipun saat itu lampu di kamar dipadamkan, tapi cahaya lampu jalanan mampu menerangi kamar ibuku melalui jendela kamar, walaupun temaram.Cerpen Sex


Disana kulihat ibuku tengah bersenggama dengan si Salesman mobil bekas, saat itu mereka tengah pindah posisi dari posisi misionaris menjadi posisi doggy style. Dan aku baru tahu apa yang menarik dari diri si Salesman tadi, rupanya penisnya besar dan panjang melebihi ukuran normal. Aku melihat batang penisnya keluar masuk vagina ibuku dari arah belakang, mereka bersetubuh dengan serunya, sementara ibuku berulang-ulang merintih nikmat, berpadu dengan geraman si Salesman yang juga merasakan kenikmatan gesekan penisnya dengan dinding vagina ibuku.


“Okhhh…hery… akhh…” rintih ibuku, sambil memanggil si Salesman, kulihat ibuku menggoyangkan pantatnya secara bervariasi, kadang didorong kebelakang menyongsong batang penis Hery yang tengah di dorong kedepan, kadang bergoyang kekiri dan ke kanan secara mendadak.


Membuat Hery menggeram tak henti-hentinya


“Hemmm….ughh…”.

“Kocok lebih keras Her… akhhh…” pinta ibuku pada Hery, yang segera menjawabnya dengan memompa ibuku lebih cepat lagi,

“Okhh… Lin…. Linda… lubang vaginamu sangat seret dan nikmaatt uugh…” ceracau Hery pada ibuku.


Mereka tetap memacu birahi mereka tanpa mempedulikan keringat yang membanjiri tubuh Hery dan menetes pada pantat ibuku.


Lalu dengan sebuah geraman yang keras,


“hemmm…ehm…..…” tiba-tiba tubuh Hery menggigil, ditancapkannya batang kemaluannya dalam-dalam di lubang vagina ibuku, tubuhnya sejenak mengejang, sedangkan ibuku kalang kabut menggoyang-goyangkan pantatnya dengan keras

“Akhh… sialan kau Her… aku hampir sampai kau duluan keluar, uh… dulu kau mampu membuat aku orgasme dua kali, sekarang kau cuma mampu sekali” keluh ibuku setengah memiawik karena kecewa.


Sementara batang kemaluan Hery mulai mengerut dengan cepat dan akhirnya keluar sendiri dari lubang vagina ibuku.


Rupanya meskipun ibuku telah menggoyang pantatnya kalang kabut, tapi puncak kenikmatan bersetubuh yang kedua tidak dapat diraihnya. “Maafkan aku Lin… habis makin sini goyanganmu makin yahud saja aku benar-benar tidak tahan menerimanya” jawab Hery meminta maaf sambil merayu ibuku.


Aku sadar ibuku pasti segera keluar dari kamar, maka aku segera menyelinap dibelakang pintu dapur yang sedikit terbuka bekas aku masuk tadi. Dari celah pintu yang terbuka segera kulihat ibuku keluar dari kamar dengan telanjang bulat, sementara wajahnya masih menunjukkan raut kecewa, sedang tangan kanannya ditangkupkan pada selangkangannya lewat celah pantatnya untuk mencegah air mani Hery berceceran kelantai.


Kulihat payudara ibuku yang besar berayun dari kiri kekanan, sementara mount pubicnya tampak melentung kedepan, dengan rambut kemaluan yang lebat menutupinya, kupandangi tubuh mulus ibuku sambil menelan ludah, paha bulat panjang, pinggang yang ramping, pantat besar membulat, dan buah dada yang besar, ditambah dengan wajah yang cantik. Lelaki mana yang tidak akan tergiur untuk memilikinya.


Saat itu juga aku sadar, bahwa aku sangat ingin menyetubuhinya, terbayang dalam benakku, kalau ibu bisa menyukai Hery si Salesman hanya karena batang penisnya yang lebih besar dan panjang dari ukuran normal laki-laki, maka ibuku pasti akan menyukai aku juga yang memiliki batang penis tidak kalah besar dan panjangnya dari Hery.


Ibuku rupanya langsung mandi, karena kudengar suara orang mandi dari balik pintu kamar mandi tersebut, sementara Hery yang telah mengenakan pakaiannya, kemudian keluar dari kamar ibuku. Diketuknya pintu kamar mandi, dan terdengar suaranya “Linda… aku pulang ya” katanya.


“He eh…” jawab ibuku pendek, rupanya ibuku masih kecewa.


Hery segera keluar dari apartemen kami lewat ruang tamu, aku sendir segera pergi keluar dengan menggunakan tangga darurat. Dibawah kulihat beberapa temanku yang tinggal di apartemen yang sama, bergerombol di halaman. Rupanya mereka merencanakan main bilyard. Aku ikut dengan mereka main bilyard, tapi hanya satu game setelah itu aku pulang ke apartemen kami.


Kali ini aku pulang lewat jalan depan, sengaja kubuat beberapa suara yang cukup berisik, agar ibuku tahu aku telah pulang, sambil bernyanyi dengan suara sumbang aku mengunci pintu keluar dari ruang tamu. Lalu aku beranjak masuk ke ruang keluarga. Disana kulihat ibuku tengah duduk menonton TV disofa dengan mengenakan daster yang tipis transparent mempertontonkan keindahan tubuhnya.


“Malam Ma.., ada acara yang menarik untuk ditonton” tanyaku pada ibuku,

“tidak ada acara yang benar-benar menarik untuk ditonton” jawabnya sambil meraih sebungkus rokok Dunhill Light.


Diambilnya rokok sebatang dan dinyalakannya, sambil menghembuskan hisapannya yang pertama, ibuku menepuk-nepuk sofa disampingnya, menyuruhku duduk disana.


“Rokok?” tawarnya padaku sambil menyodorkan bungkus rokok Dunhill Light nya,

“tentu” jawabku sambil duduk disampingnya dan mengambil sebatang rokok.


Saat menyulut rokok, diam-diam aku merasa aneh, karena aku ingat saat pertama aku dating kemari setelah ayahku bunuh diri, aku pernah ketahuan olehnya sedang merokok di tangga, dan ibuku saat itu memarahiku sambil berceramah tidak baik seorang pemuda merokok, meskipun dia sendiri perokok.


“Don, Mama sudah berpikir tentang kamu” katanya memulai percakapan, sambil matanya tetap terarah pada TV, meskipun aku tidak yakin dia bisa menikmati tontonannya.

“Memangnya kenapa Mam?” tanyaku sambil melirik ibuku dan menghembuskan asap rokok.

“itu, tentang insiden di acara kamp gereja” katanya perlahan sambil berpaling padaku.


“Mam, aku sangat menyesal atas kejadian itu, aku tahu aku telah membuat malu mama dan keluarga kita, aku tidak tahu harus berkata apa, yang jelas aku hanya ingin tahu bagaimana tubuh gadis-gadis jika tidak memakai baju, itu saja tidak ada maksud lain” jawabku mencoba menjelaskan posisiku.Cerpen Sex


“Kau memang laki-laki normal, karena itu wajar jika kau punya rasa penasaran tentang bagaimana sich tubuh wanita jika tidak mengenakan baju, mama tidak terlalu menyalahkanmu…” mama terhenti sejenak lalu lanjutnya sambil memandang TV kembali.


“Don… kau tahu bahwa dari dulu kamu adalah anak kesayangan mama, tapi karena sudah terlalu lama kamu tidak tinggal dengan mama, maka terkadang sekarang ini sulit bagi mama untuk menganggapmu sebagai anak mama, bukankah ini suatu hal yang logis?, bisakah kau memahami apa yang mama maksudkan?”


“Sedikit kurasa” jawabku yang sebenarnya masih kebingungan.


“Karena itu, mama sekarang akan bersikap berbeda kepadamu dari sikap mama yang sebelumnya, karena mama akan berbuat lebih jujur, sesuai dengan apa yang mama rasakan, bahwa kamu rasanya bukan anak mama, meskipun mama tetap sangat mencintaimu” kata mama kepadaku,


“kau bisa menerima itu bukan?” lanjutnya padaku.Sekali lagi meskipun aku masih kebingungan aku menganggukkan kepalaku.


Mama mengulurkan tangannya untuk mematikan rokonya, lalu mama bergeser merapat padaku, sambil tangannya meraih tanganku serta meletakkannya dibuah dadanya. Buah dada mama jauh lebih besar dari buah dada Marta yang masih tumbuh, dan aku ingat aureoles nya juga lebih besar dan berwarna coklat.


Ibuku berdiri dan menarikku sampai aku berlutut didepannya, dibukanya baju daster tipis yang menerawang itu, sehingga dia berdiri telanjang di depan saya. Segera kenanganku kembali pada saat dia keluar dari kamarnya dengan tangan menangkup vaginanya lewat celah pantat, serta payudaranya yang bergoyang saat dia bergegas berjalan ke kamar mandi. Batang penisku segera mengacung tegak kaku seakan ingin menjebol celana yang tengah kupakai. “Peluk mama, nak!, raba, elus dan remas seluruh tubuh mama sesuka hatimu” pintanya padaku. Bibir dan tenggorokkan ku terasa kering, dengan menelan ludah aku menuruti permintaannya.


Aku memeluknya dengan erat, sementara tanganku mengelus pinggangnya yang ramping, pantat dan pinggulnya yang membulat, lalu perlahan kucium lehernya yang wangi, serta kujilati daun telinganya sampai dengan lubang telinganya. Ciuman dan jilatanku kembali beralih pada lehernya,


“akhh…” desah ibuku ditelingaku.


Sejenak muka kami merenggang, kami saling bertatapan sejenak, lalu entah siapa yang memulai, tapi bibir kami akhirnya saling melekat dalam suatu ciuman yang nikmat. Kukulum bibirnya dengan gemas, sementara tanganku meremas payu daranya yang besar,


“okh… betapa kenyal dan halusnya payu dara ibuku” batinku.


“Oh, ya…begitu caranya, itu terasa begitu nikmat.


Ehm marilah kita ke kamar mama Don!, dan buka seluruh pakaianmu” kata ibuku kepadaku setelah kuluman bibir kami terlepas. “Bagaimana dengan saudari-saudariku” tanyaku dengan suara gemetar karena dorongan nafsu.


“Tenang, tadi siang mereka datang ke restaurant untuk pamit kepada mama, bahwa mereka malam ini akan menginap dirumah teman-temannya. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk saling mengenal lebih intim, dengan cara yang berbeda dari biasanya” jawab ibuku. Baru kini aku mengerti, kenapa ibuku sedemikian lalainya tidak menutup pintu kamarnya saat tadi bersetubuh dengan Hery, rupanya ibuku sudah tahu saudari-saudariku tidak ada, dan aku pasti belum pulang.


Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang kualami, aku ingat betapa aku sangat ingin menidurinya hanya dua jam lalu, saat aku memergokinya dia bersetubuh dengan Hery. Sekarang dia mengundangku ke kamarnya di mana dia baru saja menghibur orang lain, sepertinya semua keinganku yang tadi segera akan terlaksana.


Dengan segera aku membopong tubuh ibuku yang telanjang bulat, sambil berjalan kekamarnya, mulutku kembali mengulum puting susunya yang telah menegak, seakan menantang untuk diemut.


Sesampainya di kamarnya kulihat tempat tidur ibuku masih berantakan, meskipun ibuku telah merapikan seprainya, aroma persetubuhannya tadi masih tercium diudara, dan itu membuat gairahku bertambah dua kali lipat, dan batang penisku didalam celana berdenyut-denyut. Dalam hatiku aku bertanya-tanya, apakah ibuku menyadari hal itu.


Kuturunkan ibuku, sampai dia terbaring diatas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, seperti yang tengah menggodaku, kedua kakinya segera dikangkangkan memperlihatkan secara jelas vaginanya di bawah cahaya lampu kamar. Kulihat rambut kemaluan ibuku yang lebat, dan bibir vaginanya yang setengah terbuka, dan secuil daging tampak mengintip tepat pada bagian atas bibir vaginanya.


Segera kulepaskan seluruh bajuku, dan aku segera berbaring disampingnya,


“Wow… rupanya anak mama memiliki batang penis yang luar biasa, ughhh… begitu indah, sangat besar dan panjang, dengan otot yang kuat” pekik ibuku saat melihat batang penisku, sambil mengangkat sedikit kepalanya memandang penisku.


Ibuku segera memiringkan tubuhnya, dan dia mendekapku erat-erat dengan tubuh telanjangnya. Kain spreinya terasa masih basah dan lengket saat dia memelukku dengan kuat.


Hal itu semakin merangsang aku, karena mengingatkan akan batang penis Hery yang menerobos lubang vagina ibuku dari belakang, dan aku nyaris tidak sabar untuk memasukkan batang penisku ke lubang yang sama.


“Cium aku, Nak” pinta ibuku sambil perlahan mengelus batang penisku, sedikit tergelinjang karena elusannya, aku segera mencium bibirnya yang mungil, kukulum bibirnya dengan penuh nafsu, kurasakan lidah ibuku menujah gigiku dan perlahan mengelusnya dengan ujung lidahnya.


Segera kukejutkan ibuku dengan lidahku yang kujulurkan langsung kedalam mulutnya,


“mmmhhh…” lenguh ibuku, sambil membalas perbuatanku dengan menghisap lidahku, kami berciuman dengan penuh gairah, lidah kami saling elus dan saling belit membuat gairah kami melambung ke atas awan.

“Hmmm..”, “memm…” dengusan kami saling bersahutan semetara nafas kami menjadi tersengal, bukan saja karena pernafasan kami sedikit terhalang oleh ciuman kami yang sangat lama, tapi juga karena nafsu yang semakin memuncak.

“Kamu tampaknya sudah sangat berpengalaman, apakah kamu pernah meniduri perempuan sebelum ini?” tanya ibuku padaku setelah pagutan bibir kami terlepas.


Aku sempat panik sejenak, aku khawatir mama mengetahui aktifitasku selama sebulan ini meniduri Marta adikku, tapi segera kuingat satu-satunya bukti adalah kain sprei ku yang selalu dicuci Marta setiap habis bersetubuh, karena mencucikan baju dan lainnya memang tugasnya. Jadi tidak mungkin dapat ditemukan bukti. Dan hal ini menenangkanku.


“Tidak, aku hanya pernah mencium beberapa orang gadis itu saja, selebihnya aku melihatnya di film porno yang kutonton beramai-ramai dengan temanku” jawabku berbohong.


Ibuku menatapku dengan lekat, seakan ingin meneliti apa aku bohong atau tidak. Aku balas menatapnya sambil menenangkan diri.


“Jadi kamu masih perjaka?” tanya ibuku sambil tersenyum.

“Kecuali mama menganggap melacap berarti kehilangan keperjakaan, maka aku memang masih perjaka “ kembali aku berbohong.

“Doni… Doni… kamu memang anak baik, mama pikir kini saatnya kamu merasakan pengalaman pertamamu, kemari anakku sayang, biar mama tunjukkan sesuatu” lanjut mama sambil tersenyum senang.


Aku tergelinjang kegelian, geli yang nikmat, saat ibuku menjilati telingaku


“aghh…” erangku tak tertahankan.


Lalu ibuku menciumi leherku dan menggigitnya dengan gigitan mesra, kembali aku tergelinjang,


“nah kau dapat berbangga kepada kawan-kawanmu bahwa seorang perempuan telah memberimu gigitan cinta, tapi awas jangan mengatakan mama yang melakukannya” bisik ibuku ditelingaku.


Lidah ibuku menyusur kebawah, diciuminya dadaku sambil terus dijilatnya, saat sampai pada puting susuku tiba-tiba diemutnya, sambil ujung lidahnya menggelitik ujung puting susuku,


“akhh…. ma…” tak tetahankan aku kembali mengerang kenikmatan.


Ibuku beralih melakukan hal yang sama pada puting yang satunya lagi, kembali aku tergeliat sambil berdesah


“akhh…”.


Sementara ibuku melakukan aksinya, tanganku tidak tinggal diam, tapi meremas-remas kedua buah dadanya dengan nikmatnya, ketika jilatan ibuku sampai diperut, aku segera sadar, dia ingin membuatku mengalami orgasme dengan mulutnya, karena itu aku segera menahan kepalanya, sambil berkata


“mam, posisi tubuh mamanya jangan begitu, aku pernah melihatnya di film, ini seharusnya ada dimulutku” kataku sambil mengusap selangkangannya.

“Kau benar, itu posisi sixtynine” jawab ibuku,

“tapi itu kita lakukan nanti, sekarang mama ingin membuatmu merasakan kepuasan terlebih dahulu” jawab mama sambil melanjutkan aksinya.


Lidahnya kembali menjilati perut bawahku, sampai pangkal paha, lalu dia menjilati kantung pelirku, dan menghisapnya.


Terasa agak ngilu tapi nikmat saat ibuku mempermainkan buah pelirku, lalu lidahnya menjilat makin keatas, kini batang penisku yang dijilatnya, sampai aku mengeluarkan air madi yang cukup banyak, dan hup mulut ibuku, tiba-tiba mengulum kepala penisku, sambil menghisap air madi yang meleleh keluar,


“akhhh…” kembali desahku tak dapak kutahan.


Kini mama selain menghisap batang penisku, lidahnya juga bermain-main dilubang kencingku, mataku terbeliak merasakan kenikmatan itu,


Baca Juga Cerita Sex Istri Yang Nakal


“akhh… mama….okh.. nikmat seka…sekali…” ceracauku, sambil meremas-remas rambut ibuku. Ibuku mulai menaik turunkan mulutnya untuk mengocok batang penisku, saat mulutnya turun, selalu dibarengi dengan hisapannya pada batang kemaluanku, serta jilatan lidahnya pada kepala penisku.


Aku benar-benar tidak tahan lagi, hasrat yang telah muncul sejak aku melihat ibuku bersetubuh, dan telah kutahan sedemikian lama, membuatku dengan cepat merasakan rasa geli yang nikmat pada penisku, segera kujambak rambut dikepalanya dan kupegang kepalanya agar mengulum batang penisku lebih dalam, dan


“Akhhh….okhhhh mam… akhuu…okhhh” dengan erangan yang keras aku memuncratkan air maniku didalam mulut ibuku.


Ibuku tetap mengulum dbatang penisku, kini gerakannya searah, dari pangkal kekepala penis, sambil terus menghisap dan menelan seluruh air maniku, tanpa tersisa. Badanku kejang beberapa saat, lalu ketika semprotan air maniku berakhir, tak terasa tubuh melemas.


“Gimana nikmat?” tanya ibuku sambil melap mulutnya dengan tisue,

“wow… hebat sekali mam, jauh lebih nikmat dari pada melacap” jawabku kepada ibuku.

“Nah ingat-ingatlah mulai kini mama melarang kamu melacap, kalau kamu ingin mama akan membantu memuaskan kamu Doni” lanjut ibuku sambil mencium bibirku.

“Mam, bolehkah aku menciumi seluruh tubuhmu?” tanyaku setelah bibir kami terpisah.

“Tentu… tentu… Doni boleh melakukannya, bahkan mama akan mengajari Doni bagaimana caranya memuaskan wanita” jawab ibuku sambil tersenyum, dan berbaring terlentang disebelahku.


Aku mulai dari menciumi dahinya, lalu menjalar mengarah kebawah, mata, hidung, pipi, dan akhirnya kukulum bibir ibuku, cukup lama aku mengulumnya sambil lidah kami saling hisap dan saling belit. Lalu kutiru gerakkannya dengan menjilati lubang telinganya,


“aughh… kamu pintar sayang” desah ibuku sambil tergeliat kegelian saat lidahku menggelitik lubang telinganya.


Kugigit pelan daun telinganya, lalu kujilati belakang telinganya, jilatanku kemudian menjalar pada leher dan kuduknya kubalas gigitan ibuku dengan memberinya cupangan yang besar dilehernya. “Ssst… jangan Don, nanti banyak yang akan memperhatikan mama” cegah ibuku sambil tubuhnya tergelinjang karena cupanganku. Tapi aku tidak mempedulikannya, aku terus mencupangnya sampai akhirnya ibuku menyerah dan membiarkan aku mencupangnya.


Lidahku kemudian menjalar pada bahunya, lalu dengan suatu gerakan pasti kubuka ketiak ibuku, dan kujilati ketiaknya yang tidak berbulu karena rajin ke salon.


“Ssttt… hess….” desis ibuku kegelian karena ulahku.


Kini lidahku menjalar di dadanya, dengan sebuah tangan kuremas buah dada kirinya, sedangkan mulutku kini mengulum buah dadanya yang kanan, perlahan tapi pasti, akhirnya kuemut puting susunya yang telah tegak menantang. Aku mengemut sambil mengelus-elus kepala puting itu dengan ujung lidahku. Puas dengan yang kanan, emutanku berganti pada puting yang kiri, sementara tanganku meremas dan mempermainkan buah dadanya yang kanan.


Lalu lidahku menjilati perutnya, semakin kebawah dan tampaklah sekarang vaginanya terpampang tepat didepan mataku, aku tertegun sejenak memandang vagina ibuku, vagina itu lebih besar dibanding punya Marta, dengan rambut kemaluan yang lebih lebat juga. Kugerakkan tanganku untuk membuat kaki ibuku lebih terkangkang.


Terlihat klitorisnya juga lebih besar dan lebih menonjol dibandingkan Marta, sementara bibir vaginanya tampak sedikit menggelambir. Kusiakan bibir vaginanya dengan jariku sehingga bagian dalam vaginanya yang berwarna merah kecoklatan muncul, terlihat cairan pelicin mulai muncul dari lobang vaginanya.


“Apa yang sedang kau lihat sayang, ini namanya klitoris dan merupakan pusat kenikmatan wanita, semua wanita akan segera mengalami orgasme, jika itu dimainkan dengan benar” kata ibuku sambil jari telunjuk kanannya menunjuk seupil daging yang berada tepat diatas bibir vaginanya.


Tanpa membuang waktu lagi kujulurkan lidahku dan kujilat sepanjang vaginanya.


“akkhhhh.. okhhh…” erang ibuku kenikmatan, selama beberapa saat kulakukan hal itu lalu dengan tiba-tiba kukulum klitorisnya. Ibuku tergelinjang dengan hebat sambil mengerang lebih keras

“aaakkkhhhh…. okhhhhh…. akkkkhhhh” erang nikmatnya terasa menggetarkan jiwaku.


Kulihat tangan ibuku meremas-remas kain sprei dengan kuatnya, sementara kakinya mulai menyepak-nyepak tempat tidur. Aksiku kini berubah kujilat sekali dari atas kebawah, lalu lidahku kujulurkan masuk dalam lobang vaginanya, terasa cairan pelin ibu sedikit asin rasanya.


Aku kembali mengulum klitorisnya, sementara dua jariku kumasukkan kedalam lobang vaginanya, baru juga dua kali jari-jariku menggelitik bagian dalam vaginanya, pantat ibuku tiba-tiba terangkat keatas, sedangkan kedua tangannya menekan kepalaku ke arah selangkangannya,


“aaakkkhhhh… okhhhh…” dengan erangan yang keras puncak kenikmatan seksual ibuku diraihnya.


Lalu saat tubuhnya melemas, aku segera menelungkupinya, dan kumasukkan batang penisku kedalam lubang vaginanya, blesss penisku masuk yang langsung disambut dengan emutan dinding vaginanya. Dari posisi klitorisnya yang menonjol, aku tahu aku harus lebih banyak melakukan gesekkan, agar klitorisnya juga lebih banyak tergesek rambut kemaluanku. Dan aku melakukannya, tubuh ibuku yang mula-mula masih lemas dan membiarkan aku memompanya, perlahan berubah, kini dia memberi respon dengan menggoyangkan pantatnya kekiri kekanan mengimbangi desakanku.


“akhhh….okhh… kau pintar sekali Don… okhhh” ceracau ibuku ketika dia mulai mengimbangi pompaanku.


Aku sendiri hanya bisa mendengus-dengus karena nikmatnya, ternyata dinding vagina ibuku masih ketat meskipun dia sudah berusia 40 tahun.


“aaakkkhhh… okkhhh…” desahan ibuku berpadu dengan lenguhanku,

“ughhh… ukhhh..”. Kupercepat pompaanku, lalu kurasakan ibuku mulai memutar-mutar pantatnya, aku segera merubah cara memompaku dengan memompa sambil memutar-mutar pantat ku berlawanan arah dengan putarannya. “Akhhhh…okkhhhh…” desah kami semakin keras.


Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba tubuh ibuku mengejang, sambil menaikkan pantatnya tinggi-tinggi


“Doniiiii….okhh…akh…mam..a akhh… kelu…a rghh…”ceracau mama sambil menekan pantatku dengan kedua tangannya. Kubiarkan ibuku menikmati orgasmenya, sampai akhirnya tubuhnya melemas sedangkan matanya terpejam.


Kucium bibirnya sekilas lalu aku segera memompanya lagi. Ibuku masih belum menunjukkan reaksi, tapi aku tetap memompanya perlahan untuk membangkitkan kembali gairahnya. Dan harapanku terlaksana beberapa menit kemudian, kurasakan ibuku mulai merespon pompaanku.


“Linda sayang, aku ingin kamu menungging” bisikku ditelinganya, ibuku yang sejak tadi memejamkan matanya, tiba-tiba membuka matanya,

“huss…Doni mulai kurang ajar ya sama mama?” katanya sambil mencubit pelan pinggangku.

“Kenapa Lin… bukankah kau tidak bisa menganggap aku anakmu, maka akupun tidak bisa menganggapmu ibuku, bahkan kini aku sudah menyetubuhimu maka kamu sekarang sudah jadi istriku Linda sayang” jawabku.

“Uh… kamu ada-ada saja, tapi… emmm Doni boleh memanggilku Linda saat kita bersetubuh, atau hanya ada kita berdua, tapi kalau ada orang lain Doni tetap harus memanggilku mama, mengerti?” katanya sambil tetap memutar-mutar pantatnya ketika dilihatnya aku mengangguk, ibuku tersenyum dan mencium bibirku,

“ayolah kalau kamu ingin posisi doggystyle” katanya.Cerpen Sex


Aku menghentikan pompaanku lalu kami berganti posisi dan kembali kumasukkan batang kemaluanku kedalam lobang vagina ibuku, dalam posisi ini kemutan dinding vagina ibuku terasa lebih ketat, pantas Hery segera menyerah. Tapi tidak dengan aku, aku telah bertekad untuk memuaskan ibuku sampai dia bertekuk lutut pada diriku, karena aku berniat menghilangkan kebiasaannya bersetubuh dengan lelaki lain. Aku bertekad sejak sekarang hanya aku yang boleh menyetubuhinya.


Kulakukan segala cara untuk membuatnya cepat menggapai orgasmenya, sementara aku sendiri harus bertahan sekuat tenaga agar tidak muncrat lebih dahulu. Pengalamanku dengan Marta banyak membantuku, kuulurkan sebelah tanganku untuk meraih klitorisnya, dan mengulir-ulirnya. Ibuku hanya bertahan beberapa menit sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya yang kedua.


“Akhhh… okhhh…”erangnya dengan keras sebelum tubuhnya mengejang kaku, kembali kubiarkan ibuku sampai tubuhnya lemas kembali, lalu segera kuminta padanya agar berbaring terlentang kembali.

“Okhhh kamu hebat sekali Don” katanya dengan suara lemah, sambil membaringkan tubuhnya yang masih lemas.


Tanpa banyak bicara lagi aku segera memompanya, lagi dan lagi sampai akhirnya akupu tidak dapat bertahan lebih lama,


“ughhh Linda…akhuu tidak tahan lagi” kataku kepada ibuku,

“tahan sebentar sayang aku juga mau sampai” jawabnya sambil mengguncang-guncangkan pantatnya dengan dahsyat.


Aku kini berdiam diri, berusaha keras agar bisa merasakan orgasme secara bersamaan.


Dan ketika tangan ibuku kembali mencengkram pantat dengan kerasnya akupun memucratkan air maniku yang kedua kalinya malam itu, bersamaan dengan orgasme kelima ibuku karena ulahku.


“Linn akhhh…”,

“Doniiii.. okhhh…” erang kami bersamaan saat puncak kenikmatan persetubuhan kami raih secara bersamaan.


Tubuh kami mengejang dengan kuatnya, lalu perlahan melemas dan aku ambruk diatas tubuh ibuku. Sejenak kami terdiam merasakan sisa-sisa kenikmatan. Setelah beberapa saat baru aku mengangkat kepalaku menatap wajah cantik ibuku. Seulas senyum tampak dibibir ibuku ketika mata kami bertemu pandang.


Kucium bibirnya lembut, lalu kupandangi kembali wajahnya yang cantik.


“Mama tidak mengira kau begitu hebatnya, untuk membuat kamu mengeluarkan airmani kedua kalinya harus mama bayar dengan empat kali orgasme. Tahukah Doni hal seperti ini baru kali ini mama alami” katanya dengan suara lirih setengah mengambang.


“Sebenarnya mama hampir tidak percaya kalau Doni masih perjaka, karena apa yang tadi Doni lakukan sulit dikerjakan oleh orang yang sangat berpengalaman sekalipun, tapi mama terpaksa percaya, karena hanya perjaka yang langsung bisa tegang lagi setelah memuncratkan air maninya” lanjutnya dengan suara tetap lirih, tapi kurasakan tangannya meraba batang kemaluanku yang memang menegang lagi.


Aku hanya tersenyum sambil kembali memasukkan batang penisku kedalam lubang vaginanya,


“ughh… kau memang luar biasa Doni sayangku” kata ibuku saat batang penisku masuk kembali kedalam vaginanya.

“Linda sayang, mulai kini Doni tidak mengijinkan kamu berhubungan seks dengan laki-laki lain, hanya aku yang boleh menyetubuhimu, Doni minta kamu tinggalkan kebiasaan membawa laki-laki kedalam kamar ini, baik dengan alasan bisnis maupun hanya sekedar memenuhi hasrat seksualmu, Doni akan setia memuaskanmu kapan pun juga, sehingga kamu tidak memerlukan siapapun lagi, berjanjilah padaku sekarang” kataku kepada ibuku.


“Darimana kamu tahu aku suka membawa laki-laki kekamar ini?” tanya ibuku dengan kening berkerut.

“Aku, Lena dan Marta tidak buta Lindaku sayang, karena itu kuminta kamu berjanji padaku untuk tidak bersetubuh dengan siapapun juga kecuali denganku” kataku sambil mulai memaju mundurkan pantatku, tapi mataku tetap memandang mata ibuku.


Mata ibuku sedikit meredup saat dirasakannya gesekan batang penisku di lubang vaginanya,


“aku berjanji sayang, asal Doni juga berjanji selalu siap menyetubuhiku” katanya sambil mulai menggoyangkan pantatnya lagi.


Malam itu aku menyetubuhinya sebanyak tiga kali, dan membuat ibuku mengalami orgasme tak kurang dari sebelas kali. Sejak saat itu Linda, ibuku tidak pernah lagi menerima tamu laki-laki, dan aku harus membagi waktuku untuk meyetubuhi dua orang perempuan sekaligus, Linda, Ibuku dan Marta, adikku.


Aku dan ibuku sering mandi bersama dan aku menyabuni sekujur tubuhnya, termasuk payudaranya yang besar dan rambut kemaluannya yang lebat dan hitam, serta vaginanya. Pada saat seperti itu selalu ibuku menghisap batang kemaluanku, tapi aku tidak pernah lagi mengijinkannya menghisap air maniku, tapi saat dia memberiku blowjob, setiap kali pula aku memasturbasinya, sampai dia orgasme.


Dan setiap kali aku menuntaskan permainan dikamar mandi dengan persetubuhan yang mengasyikan. Berbagai mavcam gaya kami lakukan, mulai dari ibuku menyender dinding kamar mandi sambil mengangkat sebelah kakinya dan aku berdiri memompanya, atau dia berdiri sambil nungging sementara aku memompanya dari belakang, sampai dia duduk dipinggir bak mandi sementara aku memompanya dari depan.


Tapi saat-saat yang paling kusukai adalah ketika ibuku dengan telanjang bulat menyelinap ketempat tidurku. Kadang disiang hari jika kami ada yang terangsang, selalu saling menghubungi, lalu janjian bertemu disebuah motel dan kami bercinta habis-habisan di kamar motel.


Bertahun kami melakukannya, sampai akhirnya Lena menyandang gelar sarjana dan menikah dengan teman kuliahnya, mereka pindah ke kota lain yang jauh karena suaminya bekerja disana. Sedang Marta adikku setamat SMA dia menikah karena hamil oleh ulahku, suaminya adalah laki-laki yang dijebaknya untuk menyetubuhinya, lalu dia harus bertanggung jawab untuk kehamilan yang disebabkan ulahku.


Ibuku sendiri senang Marta cepat menikah, karena dengan demikian hanya tinggal kami berdua yang ada dirumah, apalagi Marta juga dibawa suaminya pindah ke kota yang cukup jauh, kami makin bebas bertindak seperti suami istri di apartemen kami, meskipun sebetulnya kami adalah ibu dan anak. Saat aku meraih gelar sarjanaku setahun setelah Marta menikah, aku tidak bekerja tapi mengurus restauran milik ibuku atau istriku.


Aku lulus jadi sarjana pada usia 23 tahun, sedangkan ibuku berusia 42 tahun, tapi sampai saat itu ibuku masih belum menopause, justru saat kami berpikir ibuku tidak mungkin punya anak lagi, ibuku hamil oleh ulahku tanpa bisa mencari kambing hitam, dan hanya berselisih satu minggu kemudian aku menerima berita Lena juga tengah hamil.


Meskipun aku mencegahnya, tapi pada bulan kedelapan kehamilannya Lena datang sendiri tanpa didampingi suaminya yang mendapat tugas keluar negeri selama enam bulan. Lena pulang dengan maksud untuk melahirkan dikota kami. Betapa terkejutnya Lena saat dia melihat ibuku juga sedang hamil.


Diluar tahu ibuku, Lena sempat bertanya ibu hamil oleh siapa padaku, yang kujawab dengan mengangkat bahu. Lena tidak lagi bertanya, meskipun dari pembicaraan dia kemudian, aku tahu Lena sedang menduga-duga siapa diantara laki-laki yang dulu sering mengunjungi ibuku, yang membuatnya hamil.


Usia kandungan ibuku dengan usia kandungan Lena hanya berselisih dua minggu. Meskipun selama dia tinggal Lena tidak melihat laki-laki datang ke apartemen kami, tapi itu adalah suatu hal yang wajar karena hamil tuanya ibuku.


Lalu sebuah kecelakaan terjadi Lena jatuh ditangga darurat, yang menyebabkan dia dilarikan ke rumah sakit, dua minggu Lena dirawat, Lenanya memang selamat, tapi bayinya meninggal. Lena menangis meraung-raung karena kehilangan bayinya, sulit bagi dia mempertanggungjawabkan kehilangan tersebut kepada suaminya yang sangat mendambakan anak.


Lena sangat khawatir diceraikan suaminya karena anaknya meninggal, karena itu dia sampai saat ini tidak memberi kabar apapun pada suaminya tentang meninggalnya anak yang dikandungnya. Lalu aku berunding dengan ibuku, akhirnya ibuku setuju untuk memberikan bayi yang dikandungnya kepada Lena. Aku bertugas untuk membuat kenal lahir anakku, yang kupalsukan atas nama Lena dan suaminya.


Bayi yang dilahirkan ibuku adalah bayi perempuan, aku beri dia nama Ninda, kependekkan dari namaku dan nama ibuku, meskipun yang kemudian memberi nama seolah-olah ibuku, tapi sebetulnya akulah yang memberi nama dan ibuku hanya menyetujuinya.


Bayi itu langsung diurus Lena sejak dilahirkan, hampir sebulan setengah setelah melahirkan, aku dan ibuku mulai tidak tahan untuk berhubungan seks, apalagi kami sebelumnya terbiasa bebas dirumah, tapi kini terhalang oleh adanya Lena yang nyaris tidak pernah meninggalkan rumah. Bahkan malam hari pun aku dan ibuku sulit menyelinap justru karena Ninda sering menangis dimalam hari mencari air susu. Akhirnya kami menemukan akal, ibuku kembali mengurus restaurant nya, sedangkan aku tinggal dirumah. Jika aku pergi pamit pada Lena mau ngobjek, maka sebenarnya aku janjian dengan ibu untuk pergi ke motel.


Suatu hari setelah ibuku pergi kerestaurant, aku duduk disofa ruang tengah, lalu Lena sambil membawa Ninda datang padaku, dia hanya mengenakan daster tipis, yang kancing baju atasnya terbuka. Lena duduk disampingku sambil mengeluh,


“uh.. kenapa air susuku tidak mau muncul juga, bagaimana kalau suamiku bertanya kenapa aku tidak menyusui sendiri bayi ini” katanya sambil mengeluarkan buah dadanya dan menyodorkan putingnya pada mulut Ninda.


Ninda memang mencoba mngemutnya tapi sebentar kemudian melepaskannya karena tidak ada air susu yang mengalir,


“bagaimana ini?” keluh Lena kebingungan.


Aku sendiri terpaku melotot menatap buah dada Lena yang montok, tidak kalah oleh ibuku besarnya, hanya aerolanya saja yang lebih kecil, dan putingnya lebih merah ketimbang punya ibuku..


Lena yang sadar dengan ulahku, kemudian memasukkan buah dadanya,


“Doniii… Doni belum sembuh juga penyakitmu mengintip” katanya, jelas Lena terkenag ulahku waktu di kamp gereja itu.

“Don boleh aku tanya kenapa kau belum menikah juga?” tanyanya dengan suara lembut ketika melihat aku tersipu malu.

“A.. aku tidak pernah punya keberanian untuk mendekati wanita” jawabku berbohong, sementara iblis telah memberikan rancangan bagiku untuk bisa meniduri Lena.

“Kenapa bukankah kau laki-laki normal?” tanyanya lagi.

Aku pura-pura menunduk sedih “entahlah Len, kalau aku melihat wanita sering nafsuku bangkit, tapi saat aku mendekatinya, aku tidak mampu” jawabku, dengan suara diparau-paraukan.

“Kau pernah konsultasi pada dokter atau psyater?” tanyanya lagi, aku mengangguk

“kata dokter aku normal-normal saja, sedangkan kata psyater ada sesuatu yang memblok alam bawah sadarku, sehingga aku tidak mampu, seharusnya aku berlatih berhubungan seks denganse orang wanita, tapi kemana aku harus mencari wanita seperti itu” cetusku pada Lena.Cerpen Sex


Lena terdiam beberapa lama, aku juga mendiamkannya sambil tetap mengekspresikan muka orang yang sedang putus asa. Setelah keheningan yang mencekam akhirnya Lena angkat bicara,


“kau… kau …. mau berlatih denganku?” tanyanya dengan suara ragu.


Kuangkat mukaku kupasang ekspresi tidak percaya dan harapan,


“sun…sungguh kamu mau berlatih denganku?” tanyaku.


Dengan wajah memerah Lena mengangguk, “kau telah membantuku membujuk ibu untuk memberikan anaknya padaku, kini giliranku membantu kamu” katanya dengan suara lirih. Meskipun hatiku terlonjak kegirangan, tapi aku hanya menatapnya dengan pandangan penuh harapan


“tapi bagaimana caranya?” tanyaku sambil menatapnya.


Lena tersenyum dengan muka merah sambil berkata “ikut aku kekamar” pintanya sambil melangkah kekamarnya.


Sesampainya dikamar, ditidurkannya Ninda diboks tempat tidur bayi,


“buka seluruh bajumu” pintanya padaku sambil membuka bajunya, lalu branya hingga kini tubuhnya hanya tinggal dibalut celana dalam, buag dada Lena ternyata lebih besar dari punya Marta, meskipun lebih kecil dari Linda, ibuku. Hanya aerolanya saja yang sama besarnya dengan milik ibuku.


Kuikuti perbuatannya dengan melepas semua bajuku kecuali celana dalamku.


“Buka semuanya” pintanya padaku, kali ini kulepas celana dalamku, sehingga batang penisku tegak mengacung dengan gagah beraninya.

“Woow… Don batang penismu luar biasa besarnya… apa gak salah dengan omonganmu, kok aku lihat dia bisa berdiri dengan sempurna?” katanya sambil memperhatikan batang penisku.


Aku segera sadar dengan peran yang tengah kujalani,


“iya dari dulu juga selalu tegak, tapi pas mau dimasukin layu lagi” kataku dengan nada sengaja kubuat antara kesal dan sedih.

“Ehmm.. kini aku mengerti, mungkin ada yang salah dengan caramu, kemarilah berbaring disampingku” katanya sambil mendahului berbaring.

“Kau curang menyuruh aku membuka semua, tapi kamu sendiri masih memakai celana dalam” kataku sambil berbaring disampingnya.


Lena sejenak kulihat ragu, “baiklah aku akan melepas celana dalamku, tapi kau harus berjanji untuk tidak memasukkan batang besarmu kedalam vaginaku, kita hanya akan saling menggesekkannya saja”katanya kemudian sambil melepas celana dalamnya setelah melihat aku mengangguk.


“Boleh aku melihatnya?” tanyaku sambil bangkit duduk, Lena kembali ragu tapi kemudian dia menganggukkan kepalanya, “Ok kau bisa melihatnya, dan kau memang harus mempelajarinya” katanya sambil duduk dengan kaki terkangkang. Situs Slot Online Terbaik


Lalu Lena mulai menyebutkan seluruh bagian dari vaginanya, sambil menunjuknya


“dan ini lubang vagina tempat dimana batang penis masuk kalau dua orang sedang bersetubuh, tapi kita tidak akan melakukan itu, kita hanya akan mengesekkannya saja agar kau bisa berlatih” katanya mengakhiri ceramahnya sambil kembali membaringkan tubuhnya lagi.


“Kini peluk dan cumbu aku” pintanya padaku, aku yang telah sangat terangsang karena melihat bagian dalam vaginanya yang memerah, segera menelungkupinya, kupeluk tubuhnya sementara.


Bibirku langsung menyerbu bibirnya, kukulum sejenak lalu kujulurkan lidahku kedalam mulutnya,


“uphh..” desahnya ketika menerima serbuanku.


“kau rupanya sudah sangat berpengalaman dalam berciuman” katanya dengan napas sedikit terengah akibat serbuanku. “berciuman sich sudah kulakukan sejak kau belum menikah, sayang aku tidak bisa menuntaskannya” kataku sambil mencumbu leher dan telinganya.


Lena tergeliat sambil berdesah “akhh…, perlahan sedikit” pintanya. Tapi aku yang sudah kadung bernafsu tidak menghiraukannya mulut dan lidahku berpindah pindah tempat operasi, mulai dari bibir, leher,buah dada, dan putingnya selalu menjadi incaranku, kukulum, kuemut dan kujilat secara berganti-ganti, sementara sebelah tanganku meremasi buah dadanya sedangkan batang penisku kugesek-gesekkan pada belahan vaginanya.


Lena mulai bergelinjangan tubuhnya, erang yang tadinya ditahan-tahan, kini terlepas tanpa bisa disembunyikan lagi


“akhh….okhhh…” erangnya berulang-ulang.


Sementara pantatnya mulai bergoyang-goyang mengimbangi desakan batang penisku. Sengaja kupergencar lagi seranganku, dengan tujuan saat aku memasukkan batang penisku dia tidak mampu menolaknya.


“Aaakhh… aaakkkhhh..” erangnya saat kepala penisku menyundul-nyundul klitorisnya, sementara kakinya mulai menyepak-nyepak tempat tidur.


Dari batang penisku kutahu vagina Lena sudah sangat basah. “Ber….berhenti Don…” katanya terpatah-patah dengan suara lemah disela desahnya, memintaku untuk menghentikan aksiku. Aku sadar itu adalah sisa kesadarannya akan tujuan kami melakukan ini, tapi ini justru merupakan aba-aba bagiku untuk segera memasukkan batang penisku kedalam lubang vaginanya.


Dengan ancang-ancang penuh aku mengincar lubang vaginanya,


”ughhh” lenguhku saat kepala batang penisku menembus lubang vaginanya, blesss batang penisku amblas sebatas kepalanya,

“Doniii… jangannnn…” pekikdengan mata terbelak lebar, sementara pantatnya berguncang dengan hebatnya untuk mengeluarkan batang penisku, sedangkan tangannya mencoba menolakkan tubuhku, tapi tenaganya sangat lemah.


Aku yang sudah menduga hal itu segera mempererat pelukanku dan himpitan pantatku keselangkangannya, bahkan pada saat-saat demikian kucoba untuk memasukkan batang penisku lebih dalam, meskipun agak susah karena rontaannya, tapi akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menghentakkan batang penisku sekuatnya kedalam lubang vaginanya.


“Ughh…” lenguhku saat menusukkan batang penisku sekuatnya, kurasakan betapa ketatnya himpitan dinding lubang vaginanya, dan blesss seluruh batang penisku amblas

“awww…” pekik Lena saat batang penisku amblas seluruhnya. Sejenak kami terdiam lalu pecahlah isak Lena

“kau…kau …jahat Doni.. kau memasukkannya” katanya disela isaknya.

“Maafkan aku Len, aku sungguh tidak bisa menahan keinginanku untuk merasakan bagaimana rasanya memasukkan penisku kedalam lubang vagina perempuan” kataku sambil membelai rambutnya.

“Kini..kini kau sudah sembuh, cepat cabut penismu..” pinta Lena sambil memandangku.


Aku menggelengkan kepala


“tidak aku sudah kadung memasukkannya, aku kini ingin merasakan bagaimana rasanya bersetubuh” kataku sambil mulai memaju mundurkan pantatku.


Kulihat Lena mencoba untuk memberontak, tapi rontaannya lemah dan tidak bertenaga. Setelah nyata tidak berhasil Lena mencoba melawanku dengan cara halus, tubuhnya kaku seperti batang pisang tidak merespon pompaanku, sementara bibirnya digigitnya dengan keras.


Aku semakin tertantang untuk menaklukkan Lena, kukeluarkan semua kemampuan dan pengalamanku untuk membuatnya menyerah, akhirnya setelah lima menit berusaha, kulihat sebuah kepasrahan muncul dari sorot matanya, mata itu pelan menyayu dan akhirnya terpejam, sementara bibirnya terbuka mengeluarkan desah nikmat yang sejak tadi ditahannya


“oooookkkkkhhhhh……”, lalu pantatnya mulai bergoyang melayani pompaanku, mulanya pelan tapi makin lama makin cepat.


Kurang dari dua menit sejak dia merespon, tubuh Lena tiba-tiba mengejang


”akhhh…. Donniiii….okhh….” erangnya sambil merangkul tubuhku erat-erat, aku tahu Lena sudah mencapai orgasme.


Kubiarkan sejenak setelah terasa tubuhnya melemas, segera ku pompa lagi. Luar biasa kurang dari semenit kemudian pantatnya mulai bergoyang lagi,


“sssstttt….sehhh..” desisnya bagai orang yang kepedasan.


“Nikmat sayang?” kataku sambil mencium bibirnya sekilas, matanya yang sejak tadi terpejam kini terbuka, mata kami bertemu pandang dan perlahan matanya mengejap sekali sambil bibirnya menyunggingkan senyum, dan mata itu kembali tertutup dengan mukanya semakin memerah. Aku tahu Lena telah mengiyakan pertanyaanku. Dan aku melanjutkan pompaanku


Lena kembali mencapai orgasmenya tidak lama kemudian, kali ini dia menjerit kecil sambil menggigit bahuku saat tubuhnya mengejang. Aku yang ingin membuktikan penguasaanku terhadap Lena berbisik padanya setelah tubuhnya kembali melemas.


“Kini kau yang diatas menunggangi aku ya?” kataku sambil membalikan tubuh kami.


Sejenak kemaluan kami terpisah. Lena berpindah posisi dan mengangkangiku setelah sebelumnya dia meraih tissue dan membersihkan vaginanya yang becek.


Tak lama kemudia Lena kini menunggangiku, dengan posisi ini Lenalah yang banyak bergerak dan memegang kendali persetubuhan. Hanya terkadang aku menaikkan pantatku menyongsong pantatnya yang turun sehingga batang kemaluanku amblas makin dalam dilubang vaginanya, sedangkan kedua tanganku aktif meremas-remas payu daranya.Cerpen Sex


Lena benar-benar bagaikan orang yang kesetanan memacu tubuhku, keringatnya menganak sungai dan menetes ditubuhku, kadang badannya ditengkurapkan menindih badanku, kadang dia duduk tegak. Dan yang paling menyenangkan adalah saat dia menurunkan pantat nya sambil melakukan gerakan memutar, serasa batang penisku dipilin-pilin oleh dinding lubang vaginanya, kurasakan rasa geli mulai timbul dibatang penisku, “Len aku sebentar lagi mau muncrat nich” kataku pada Lena, “akk…aku juga mau sebentar lagi, barengan aja” katanya disela dengus napasnya. Kucoba bertahan tapi saat Lena semaki tidak terkendali akhirnya aku muncrat juga


“Ughhh… Lena…”kataku sambil menahan pantatnya agar rapat dengan, crett…crett… airmaniku menyembur.


Pada saat yang bersamaan kulihat Lena menengadahkan wajahnya memandang langit-langit kamar, tubuhnya mengejang


“ouhggg…. Akkhhh…” erangnya dengan keras.


Rupanya kami mencapai puncak kenikmatan bersetubuh secara bersamaan. Sejenak kami terdiam dalam posisi itu lalu tubuh Lena yang melemas ambruk menimpa tubuhku, kupeluk tubuhnya erat-erat sambil meresapi sisa-sisa kenikmatan yang baru kami raih.


Hampir seperempat jam kami berdiam diri dengan posisi seperti itu, batang penisku yang sudah mengerut akhirnya lepas dari lubang vaginanya. “kau bohongkan dengan penyakitmu?” tuding Lena dengan suara lirih sambil masih tetap menindihku.


Aku tidak menjawab, sementara Lena melanjutkan kata-katanya


“tapi aku tidak marah kepadamu, kamu baru saja memberi pengalaman terindah dan ternikmat selama hidupku, abang yang menjadi suamiku belum pernah mampu melakukannya seperti ini, paling skornya hanya 1-1, bahkan kadang aku tidak mendapat orgasme saat besetubuh dengannya, tapi kini skornya 3-1, suatu hal yang tidak pernah kuimpikan tapi kini jadi kenyataan” katanya masih dengan suara lirih sambil menggulingkan badannya hingga kini kami berbaring berdampingan.


Kubalikan badanku hingga kini aku menghadap padanya yang masih tetap berbaring, pelan kucium bibirnya, dan kami berpagutan erat.


“Syukurlah kalau kau tidak marah, habis kau sich merangsangku, jadi saja aku melakukannya” kataku sambil mengelus-elus pinggangnya.

“Len kamu masih mampu?” tanyaku.


Lena memandangku dengan pandangan bertanya, kupegang tangannya dan kubimbing ke penisku.


“aww… kau sudah berdiri lagi?” tanyanya dengan takjub.

“Se… sebentar beri aku waktu untuk memulihkan kondisi ku barang seperempat jam, lalu kita lakukan lagi” katanya dengan muka memerah, saat tanganku mulai mengelus-elus belahan vaginanya.


Dan kami kembali bersetubuh lagi, puncak demi puncak kenikmatan kupersembahkan pada Lena, hari itu aku tiga kali memuncratkan airmaniku, sementara Lena tidak kurang dari sembilan kali meraih orgasmenya.


Sejak saat itu sampai Lena kembali kepada suaminya, aku selalu melayani dua orang perempuan dalam sehari. Kenikmatan birahi yang kami reguk seakan akan tidak ada puasnya. Menjelang kepulangannya Lena sempat bertanya padaklu dengan pandangan menyelidik


“Doni, sebenarnya Ninda anak mama dengan siapa?, aku telah lama memikirkannya, laki-laki seperti kamu berkumpul berdua dengan mama, rasanya tidak mungkin tidak terjadi sesuatu.


Ninda bukankah itu kependekan namamu dan nama mama?, benar bukan Ninda adalah anak mama dari kamu?” tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya tersenyum sambil mencium sekilas bibirnya.


Dan aku hanya bisa nyengir saat pamit Lena merangkul aku dan ibuku, sehingga kami bertiga saling berangkulan erat, dan Linda berkata padaku dengan didengar ibuku, “jaga istrimu baik-baik yah… adikku yang nakal” katanya sambil mencium pipiku, lalu pada ibuku dia berkata “tolong jaga satu-satunya adik laki-lakiku ya iparku yang cantik” katanya sambil mencium pipi ibuku.


Lalu sambil berbalik dia berkata “terima kasih kalian telah memberikan anak kalian padaku, sehingga suamiku menjadi sangat bahagia, aku janji akan merawatnya seperti aku merawat anak kandungku sendiri” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada kami, aku dan ibuku. Dan tanpa member kesempatan lagi Lena segera melangkah keluar.


“Da… dari… darimana Lena tahu hubungan kita?” Tanya ibuku dengan muka bingung meskipun matanya masih menatap pintu yang barusan digunakan Lena.

“Sudah Lin, tak usah kita pikirkan, yang penting Lena tidak marah bahkan dari kata-katanya, tampaknya dia justru merestui hubungan kita, dan yang lebih penting lagi, kini kita tinggal berdua sehingga kita bebas seperti semula melakukan apa saja” kataku sambil membopong tubuh ibuku dan membawanya kekamar tidurnya yang sebenarnya merupakan kamar tidur kami.


“ughh… dasr kamu yang tidak ada puasnya” kata ibuku sambil menggigit pelan telingaku,

“cepat kau setubuhi aku dan puaskan aku berkali-kali, anak kurang ajar yang doyan menyetubuhi ibunya sendiri” bisiknya lagi ditelingaku.


Waktu berjalan dengan cepat, Sepuluh tahun sejak ibuku melahirkan anakku, kudengar Lena bercerai dengan suaminya, dan setahun kemudian dia menikah lagi dengan seorang pria yang sepuluh tahun lebih muda dari usianya. Aku sendiri tidak pernah menikah secara resmi, buat apa, tokh ada ibuku yang sekaligus juga menjadi istriku.


Tapi empat tahun kemudian, atau lima belas tahun sejak melahirkan Ninda, ibuku meninggal dalam kecelakaan jalan raya, saat dia baru keluar dari sebuah mall. Sejak saat itu aku hidup sendiri dan menyepi.


Tapi itu tidak lama, lima bulan setelah ibuku meninggal, aku mendapat telephone dari Lena, dia bertanya maukah aku merawat Ninda, karena suaminya yang sekarang tampaknya menaksir Ninda, sementara sikap Ninda sendiri terlalu gampangan. Karenanya Lena khawatir kalau suaminya menjalin hubungan gelap dengan Ninda.


“Dia membutuhkan figur yang kuat dan bisa mendidiknya, suatu hal yang tidak sanggup kuberikan” katanya padaku, aku segera menyetujuinya untuk menerima Ninda dirumahku, karena sebenarnyalah dia adalah putri ku satu-satunya. Tanpa sadar bahwa aku telah membuka babak baru dalam kehidupan incest seksualku.–

Cerita Sex Rumah Penuh Dosa

Subscribe Our Newsletter